“KESULITAN
MAKAN PADA PENYANDANG AUTIS”
Dr Widodo Judarwanto
SpA
telp : (021) 70081995 – 4264126 –
31922005
email : wido25@hotmail.com ,
http://kesulitanmakan.bravehost.com
ABSTRAK
Jumlah penyandang Autis
semakin meningkat pesat dalam dekade terakhir ini. Dengan adanya metode
diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan penyandang yang ditemukan
terkena Autis akan semakin besar. Autis adalah gangguan perkembangan pervasif
pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, interaksi sosial dan gangguan persepsi
sensoris.
Beberapa
gangguan Autis seringkali melibatkan gangguan neuroanatomis dan neurofungsional
tubuh. Bila gangguan tersebut melibatkan gangguan neurofungsional tubuh salah
satu yang terganggu adalah kemampuan koordinasi motorik oral seperti mengunyah
dan menelan. Dalam keadaan demikian proses makan pada penyandang akan terganggu
sehingga akan mengalami kesulitan makan. Faktor penyebab lainnya adalah karena
gangguan nafsu makan. Gangguan neurofungsional dan gangguan nafsu makan tersebut
sangat berkaitan dengan gangguan saluran cerna yang di alami penyandang Autis.
Pendekatan diet eliminasi provokasi makanan adalah cara yang ideal untuk mencari
penyebab gangguan saluran cerna tersebut. Gangguan saluran cerna penyandang Autis
dapat disebabkan karena alergi makanan, intoleransi makanan, intoleransi gluten
(celiac) atau reaksi simpang makanan lainnya.
Penanganan
kesulitan makan pada penyandang Autis harus dilakukan dengan optimal, untuk
mencegah komplikasi gangguan tumbuh dan berkembangnya. Perbaikan saluran cerna
sebagai salah satu cara penanganan masalah kesulitan makan sekaligus akan
memperbaiki gangguan perilaku lainnya pada penyandang
Autis.
PENDAHULUAN
Upaya
peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis
dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang khususnya penyandang Autis
adalah menjadi prioritas utama,. Salah satu masalah yang sering dialami penyandang autis adalah kesulitan
pemberian makan pada anak yang dapat mengakibatkan berbagai komplikasi.
Tumbuh dan
berkembangnya anak yang optimal tergantung dari beberapa hal, diantaranya
adalah pemberian nutrisi dengan
kualitas dan kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dalam masa tumbuh kembang tersebut
pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan
dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan karena
faktor kesulitan makan pada anak.
Pemberian
makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh pada
penyandang Autis. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang
merawat anaknya. Lama kelamaan
hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh
kembang lainnya. Padahal penyandang Autis sudah mempunyai kendala dalam tahap
perkembangannya. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah
pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut
terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan
berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Dengan
penanganan kesulitan makan pada penyandang autis secara optimal diharapkan dapat
mencegah komplikasi yang ditimbulkan. Sehingga dapat meningkatkan kualitas
penyandang Autis.
Kesulitan
makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda
adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak.
Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau
mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah
sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka
mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan
secara baik tanpa paksaan dan tanpa
pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap,
menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau
menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan
berlama-lama dan memainkan makanan,
(4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut
rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua,
(6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh
dan ganjil.
PENYEBAB
Penyebab
kesulitan makanan itu sangatlah banyak dan luas, semua gangguan fungsi organ
tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap sebagai penyebab.. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan
atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak. Kelainan
fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir atau
infeksi didapat. Pada
penyandang Autis tampaknya gangguan saluran cerna merupakan penyebab yang paling
sering yang mengakibatkan terjadinya kesulitan makan.
Secara umum penyebab umum kesulitan
makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan,
gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa
faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Pada penyandang
Autis penyebab paling sering yang terjadi adalah gangguan nafsu makan dan
gangguan proses makan.
GANGGUAN
NAFSU MAKAN
Gangguan
nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada
anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu
makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan). Tampilan gangguan nafsu makan yang
ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20
menit menjadi 10 menit), makan hanya sedikit atau mengeluarkan, menyembur-nyemburkan makanan atau
menahan makanan di mulut terlalu
lama. Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya,
menepis suapan orang tua atau tidak mau makan dan minum sama sekali. Gangguan
nafsu makan pada penyandang Autis sering diakIbatkan karena gangguan saluran
cerna seperti alergi makanan, intoleransi makanan, intoleransi gluten dan
sebaginya. Gangguan
utama gangguan saluran cerna pada penyandang Autis berupa gangguan permeabilitias
saluran cerna yang sering disebut leaky gut.
Gangguan
pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tampak anak
sering mudah mual atau muntah bila batuk, menangis atau berlari. Sering nyeri
perut sesaat dan bersifat hilang timbul, bila tidur sering dalam
posisi ”nungging” atau perut diganjal bantal Sulit buang air besar (bila buang
air besar ”ngeden”, tidak setiap hari
buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).
Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau dan baunya sangat menyengat, berbentuk
keras, bulat (seperti kotoran
kambing), pernah ada riwayat berak darah. . Lidah tampak kotor, berwarna putih
serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau.
Keadaan ini
sering disertai gangguan tidur malam. Gangguan tidur malam tersebut seperti
malam sering rewel, kolik, tiba-tiba terbangun, mengigau atau menjerit, tidur
bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Saat tidur malam timbul
gerakan brushing atau beradu gigi sehingga menimbulkan bunyi
gemeretak.
Biasanya
disertai gangguan kulit : timbal bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk
atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau
di bagian badan lainnya dan sebagainya. Kulit di bagian tangan dan kaki tampak
kering dan kusam
Tanda
dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa oleh orang tua bahkan banyak dokter atau klinisi karena
sering terjadi pada anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala
tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang mungkin
berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.
GANGGUAN
PROSES MAKAN DI MULUT
Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan
menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di
sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik
tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan
oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di
sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa
gangguan mengunyah makanan.
Tampilan
klinis gangguan mengunyah adalah keterlambatan makanan kasar tidak bisa makan
nasi tim saat usia 9 bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1 tahun, tidak bisa
makan daging sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Bila anak sedang
muntah dan akan terlihat tumpahannya terdapat bentukan nasi yang masih
utuh. Hal ini menunjukkan bahwa
proses mengunyah nasi tersebut tidak sempurna. Tetapi kemampuan untuk makan
bahan makanan yang keras seperti krupuk atau biskuit tidak terganggu, karena
hanya memerlukan beberapa kunyahan. Gangguan koordinasi motorik mulut ini juga
mengakibatkani kejadian tergigit sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak
sengaja.
Kelainan lain
yang berkaitan dengan koordinasi motorik mulut adalah keterlambatan bicara dan
gangguan bicara (cedal, gagap, bicara terlalu cepat sehingga sulit dimengerti).
Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan keseimbangan
dan motorik lainnya. Gangguan ini
berupa tidak mengalami proses perkembangan normal duduk, merangkak dan
berdiri. Terlambat bolak-balik
(normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan) atau tidak
merangkak tetapi langsung berjalan, keterlambatan kemampuan mengayuh sepeda
(normal usia 2,5 tahun), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”. Bila berjalan
selalu cepat, terburu-buru seperti berlari, sering jatuh atau menabrak, sehingga
sering terlambat berjalan. Ciri lainnya biasanya disertai gejala anak tidak bisa
diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif. Mudah marah serta sulit
berkonsentrasi, gampang bosan dan selalu terburu-buru.
Gangguan
saluran pencernaan tampaknya merupakan faktor penyebab terpenting dalam gangguan
proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan teori ”Gut Brain
Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan saluran cerna maka
mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak. Gangguan fungsi susunan saraf
pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan neurofungsional. Salah satu
manifestasi klinis yang terjadi adalah
gangguan koordinasi motorik kasar mulut.
GANGGUAN
PSIKOLOGIS
Gangguan psikologis dahulu
dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak. Tampaknya hal ini
terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam menemukan penyebab kesulitan
makan pada anak. Gangguan psikologis dianggap sebagai diagnosis keranjang sampah
untuk mencari penyebab kesulitan makan pada anak. Untuk memastikan gangguan
psikologis sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak harus dipastikan
tidak adanya kelainan organik pada anak. Kemungkinan lain yang sering terjadi,
gangguan psikologis memperberat masalah kesulitan makan yang memang sudah
terjadi sebelumnya.
Gangguan
pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu waktunya
bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor psikologis
tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik. Untuk
memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari dekat
dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya mungkin
dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau
psikolog.
Beberapa
aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan orang tua,
antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya dapat
mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang tua
yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik atau suasana keluarga yang penuh
pertentangan, permusuhan atau emosi yang tinggi akan mengakibatkan anak
mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia, sedih atau depresi. Hal itu
mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga bisa membuat anak menarik diri
dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk aktifitas
makannya
KOMPLIKASI
KESULITAN MAKAN
Peristiwa
kesulitan makan yang terjadi pada penyandang Autis biasanya berlangsung lama.
Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi seperti kekurangan
kalori, protein, vitamin, mineral, elektrolit dan anemia (kurang darah).
Kekurangan
kalori dan protein yang terjadi tersebut akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan
atau gagal tumbuh. Tampilan klinisnya adalah terjadi gangguan dalam peningkatan
berat badan. Bahkan
terjadi kecenderungan berat badan tetap dalam keadaan yang cukup lama.
Dalam
keadaan normal anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat
badan 2 kilogram dalam setahun.
Defisiensi
zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan metabolisme dan
gangguan fungsi tubuh lainnya yang sudah terjadi pada penyandang Autis. Keadaan ini tentunya akan menghambat
beberapa upaya penanganan dan terapi yang sudah dilakukan
sebelumnya.
Tabel
1. Penyakit akibat kekurangan vitamin dengan gejala dan tanda klinis
:
|
|
NAMA
PENYAKIT |
KEKURANGAN/
DEFISIENSI |
GEJALA DAN TANDA
KLINIS |
|
1 |
Buta
senja (xeroftalmia) |
Vitamin
A |
Mata
kabur atau buta |
|
2 |
Beri-beri |
Vitamin
B1 |
Badan
bengkak, tampak rewel, gelisah, pembesaran jantung
kanan |
|
3 |
Ariboflavinosis |
Vitamin
B2 |
Retak
pada sudut mulut, lidah merah jambu dan licin |
|
4 |
Defisiensi
B6 |
Vitamin
B6 |
Cengeng,
mudah kaget, kejang, anemia (kurang darah), luka di
mulut |
|
5 |
Defisiensi
Niasin |
Niasin |
Gejala
3 D (dermatitis /gangguan kulit, diare, deementia), Nafsu makan menurun,
sakit di ldah dan mulut, insominia, diare, rasa
bingung. |
|
6 |
Defisiensi
Asam folat |
Asam
folat |
Anemia,
diare |
|
7 |
Defisiensi
B12 |
Vitamin
B12 |
Anemia,
sel darah membesar, lidah halus dan mengkilap, rasa mual, muntah, diare,
konstipasi. |
|
8 |
Defisiensi
C |
Vitamin
C |
Cengeng,
mudah mara, nyeri tungkai bawah, pseudoparalisis (lemah) tungkai bawah,
perdarahan kulit |
|
9 |
Rakitis
dan Osteomalasia |
Vitamin
D |
Pembekakan
persendian tulang, deformitas tulang, pertumbuhan gigi melambat, hipotoni,
anemia |
|
10 |
Defisiensi
K |
Vitamin
K |
Perdarahan,
berak darah, perdarahan hidung
dsb |
Tabel 2.
Penyakit akibat kekurangan mineral
dan elektrolit dengan gejala dan tanda klinis:
|
|
Nama
penyakit |
Kekurangan/ Defisiensi
|
Gejala dan tanda
klinis |
|
1 |
Anemia
Defisiensi Besi |
Zat
besi |
pucat,
lemah, rewel |
|
2 |
Defisiensi
Seng |
Seng |
Mudah
terserang penyakit, pertumbuhan lambat, nafsu makan berkurang,
dermatitis |
|
3 |
Defisiensi
tembaga |
tembaga |
Pertumbuhan
otak terganggu, rambut jarana dan mudah patah, kerusakan pembuluh darah
nadi, kelainan tulang |
|
4 |
Hipokalemi |
kalium |
Lemah
otot, gangguan jantung |
|
5 |
Defisiensi
klor |
klor |
Rasa
lemah, cengeng |
|
6 |
Defisiensi
Fluor |
Fluor |
Resiko
karies dentis (kerusakan gigi) |
|
7 |
Defisiensi
krom |
krom |
Pertumbuhan
kurang, sindroma like diabetes
melitus |
|
8 |
Hipomagnesemia |
magnesium |
Defisiensi
hormon paratiroid |
|
9 |
Defisiensi
Fosfor |
Fosfor |
Nafsu
makan menurun, lemas |
|
10 |
Defisiensi
Iodium |
Iodium |
Pembesaran
kelenjar gondok, gangguan fungsI mental, perkembangan
fisik |
PENANGANAN
KESULITAN MAKAN PADA penyandang AUTIS
Pendekatan
dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada penyandang autis bukanlah
hanya dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan
yang cermat, teliti dan terpadu. Pemberian
vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut.
Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya
telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai vitamin tetapi tidak
kunjung membaik.
Beberapa langkah yang dilakukan pada
penatalaksanaan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah : (1).
Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan (2) Cari penyebab kesulitan
makanan pada anak, (3). Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi, (4)
Pemberian pengobatan terhadap penyebab, (5). Bila penyebabnya gangguan saluran
cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), hindari makanan tertentu yang
menjadi penyebab gangguan.
Bila
terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya harus
segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat.
Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan
disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan
penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu.
Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak.
Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan
minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organik atau medis
sebagai penyebab kesulitan makan
tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan
tersebut harus dikonsultasikan pada psikiater atau pskolog
anak.
Penanganan
kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab
tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila
perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang
berkaitan dengan kelainannya. Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai
penurunan atau tidak meningkatnya
berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi
lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam
penanganan kesulitan makan tersebut
harus melibatkan berbagai
disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering
berkaitan dengan hal ini adalah :
Dokter Spesialis Anak minat
gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak atau psikiater anak,
psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila
masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berkonsultasi dengan
dokter spesialis anak gastroenterologi, bila masalah alergi yang dominan maka
konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.
Penyebab kesulitan makanan demikian
kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain
saling mempengaruhi dan memberatkan. Sehingga sering terjadi kebingungan pada
orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau
bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena
kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi
penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal
dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang
dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan.
Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui
rekam medis (catatan penyandang) atau hubungan langsung.
Gangguan pencernaan kronis pada
penyandang Autis tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan.
Gangguan
saluran cerna kronis yang terjadi adalah imaturitas saluran cerna, alergi
makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan gangguan reaksi simpang
makanan lainnya. Sebagian besar kelainan reaksi simpang makanan tersebut terjadi
karena adanya jenis makanan yang mengganggu saluran cerna anak sehingga
menimbulkan kesulitan makan. Berkaitan dengan hal ini tampaknya pendekatan diet
merupakan penatalaksanaan terkini yang cukup inovatif.
Penelitian
yang dilakukan di Picky Eater Clinic Jakarta, dengan melakukan pendekatan diet pada
218 anak dengan kesulitan makan. Pendeketan diet adalah dengan cara penghindaran
makanan yang berpotensi mengakibatkan reaksi simpang makanan. Setelah dilakukan
penghindaran makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah
78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga.
Gangguan saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penyandang antara
minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya
bisa diperbaiki sekitar 30%. Pendekatan diet mungkin dapat digunakan sebagai
alat untuk mendiagnosis gangguan saluran cerna yang ada, tanpa harus menggunakan
pemeriksaan laboratorium yang mahal dan invasif.m Perbaikkan yang terjadi pada
gangguan kesulitan makan, gangguan saluran cerna tersebut ternyata juga diikuti
oleh perbaikkan pada gangguan perilaku yang menyertai seperti gangguan tidur,
gangguan konsentrasi, gangguan emosi dan sebagainya. Demikian pula pada
penyandang Aiutis, pendekatan penanganan tersebut selain memperbaiki permasalahan
makan yang dihadapi diharapkan sekaligus ikut memperbaiki beberapa gangguan perilaku
yang terjadi.
Penanganan
dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal
dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks
menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik
kadang membantu msnstimulasi sensoris otot di daerah mulut. Tindakan yang
tampaknya dapat membantu adalah melatih koordinasi gerakan otot mulut adalah
dengan membiasakan minum dengan memakai sedotan, latihan senam gerakan otot
mulut, latihan meniup balon atau
harmonika. Terapi okupasi yang diberikan pada penyandang Autis yang berkaitan
dengan perbaikkan koordinasi motorik mulut juga akan membantu sekaligus
mengatasi problem kesulitan makan.
Pemberian
vitamin tertentu sering dilakukan
oleh orang tua atau dokter pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini
bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan
mencari penyebabnya. Kadangkala
pemberian vitamin justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya
tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya
tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin
tersebut, padahal bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari
pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.
Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus
ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak. Pemberian makanan
yang berserat seperti sayur kangkung, bayam, atau sawi harus disajikan dalam
bentuk yang lebih halus. Misalnya, harus diblender atau dipotong kecil dan halus. Pilihan lain
dicari alternatif sayur yang mudah dikunyah seperti wortel atau kentang. Demikian juga dengan pemberian makanan
daging sapi atau empal harus berupa bakso, perkedel atau daging yang tidak
berserat. Bila kesulitan dalam makan nasi sebaiknya dibuat nasi yang lebih
lembek atau kalau perlu bubur.
Anak
dengan gangguan makan, kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang
sehat lainnya. Keadaan ini biasanya terjadi jangka panjang, pada beberapa kasus
seperti alergi makanan keadaan akan membaik setelah usia setelah usia 5-7 tahun.
Pada kasus penyakit coeliac atau intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang
lebih lama bahkan tidak sedikit yang terjadi hingga
dewasa.
PENUTUP
Faktor
utama penyebab kesulitan makan pada penyandang Autis adalah gangguan proses
koordinasi motorik mulut (gangguan mengunyah dan menelan) dan gangguan nafsu
makan. Gangguan tersebut sangat berkaitan dengan gangguan saluran cerna yang
dialami penyandang Autis. Pendekatan diet eliminasi provokasi makanan adalah cara
yang ideal untuk mencari penyebab sekaligus penanganan gangguan saluran cerna
tersebut. Gangguan saluran cerna penyandang Autis dapat disebabkan karena alergi
makanan, intoleransi makanan, intoleransi gluten (celiac) atau reaksi simpang
makanan lainnya.
Penanganan
kesulitan makan pada penyandang Autis harus dilakukan sejak dini secara optimal. Sehingga dapat dicegah
komplikasi kesulitan makan dan gangguan tumbuh kembang lainnya. Perbaikan
saluran cerna sebagai salah satu cara penanganan masalah kesulitan makan
sekaligus akan memperbaiki gangguan perilaku yang terjadi pada penyandang
Autis.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Burd L, Kerbeshian J:
Psychogenic and neurodevelopmental factors in autism. J Am Acad Child Adolesc
Psychiatry 1988 Mar; 27(2): 252-3.
2.
Singer HS: Pediatric
movement disorders: new developments. Mov Disord 1998; 13 (Suppl 2):
17.
3.
Horvath K,
Papadimitriou JC, Rabsztyn A, et al: Gastrointestinal abnormalities in children
with autistic disorder. J Pediatr 1999 Nov; 135(5):
559-63.
4.
Volkmar FR, Cohen DJ:
Neurobiologic aspects of autism. N Engl J Med 1988 May 26; 318(21):
1390-2.
5.
Agus
Firmansyah.Aspek. Gastroenterology
problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update,
2003.
6.
Berg, Frances., ed.
Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis.
7.
Hirschmann, Jane R.,
CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A
Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food & Weight
Conflicts
8.
Kubersky, Rachel.
Everything You Need to Know about Eating Disorders
9.
Levine, Michael, PhD,
and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades
7-12
10.
Judarwanto
Widodo, Kesulitan makan pada penyandang alergi dengan gastroenteropati Atopi.
(tidak
dipublikasikan).
11.
Soepardi Soedibyo, Sri
Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition
update,2003.
12.
Bryant-Waugh R., Lask B. Eating
Disorders in Children. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied
Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.
13.
Costa M, Brookes SJ.
The enteric nervous system. Am J Gastroenterol 1994;89:S29-137.
14.
Goyal RK, Hirano I. The
enteric nervous system. N Engl J Med 1996;334:1106-1115.