Kebijakan Pendidikan Bagi Anak Autis

09/24/2005

Subject: [Puterakembara] Kebijakan Pendidikan Bagi Anak Autis


KEBIJAKAN KEGIATAN Prioritas Direktorat Pendidikan Luar Biasa



Program Uji Coba Pendidikan Inklusi

Pendidikan Inklusi adalah kebersamaan untuk memperoleh pelayanan pendidikan
dalam satu kelompok secara utuh bagi seluruh anak berkebutuhan khusus usia
sekolah, mulai dari jenjang TK, SD, SLTP sampai dengan SMU

bagi anak berkebutuhan khusus untuk bersosialisasi dan berintegrasi
dengan anak sebayanya di sekolah reguler.

Sebagai solusi terhadap kendala sulitnya anak berkebutuhan khusus
untuk mendapatkan pelayanan pendidikan secara utuh di desa-desa dan daerah
terpencil

Desiminasi program inklusi yang telah dilaksanakan antara lain di SLB
Negeri Kabupaten Gunung Kidul, SLB Pembina Tk Propinsi di Lawang, SLB Negeri
Bandung, dan Sekolah-sekolah terpadu di DKI Jakarta, NTB dsb.


Penanganan anak autisme

Penanganan secara dini bagi anak yang mengalami hambatan dalam
berkomunikasi, bersosialisasi, sensorik, perilaku, dan emosi untuk
mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Menggali dan mengembangkan kemampuan-kemampuan tenaga ahli (dokter
umum, dokter ahli, psikolog) melalui instansi terkait melalui seminar
lokakarya layanan pendidikan untuk penyandang autisme.

Peningkatan SDM dengan memasukkan kurikulum mengenai pendidikan untuk
penyandang autisme pada pendidikan guru dan guru luar biasa (terutama guru
TK dan SD sebagai saringan pertama) terkait.

Menyusun satu model layanan pendidikan bagi anak autis.

Menyusun pedoman modul layanan pendidikan bagi anak autis.

Memotivasi yayasan penyelenggara pendidikan Autis dan penyelenggara
SLB dengan memberikan bantuan berupa block grant.



KEBIJAKAN PELAYANAN Pendidikan Bagi Anak Autis

I. PENGERTIAN

Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme"
yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada
dunianya sendiri.

Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut
komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak
sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah
ada sejak lahir.

Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental,
sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk
bidang-bidang tertentu (savant)

Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang :

1. Komunikasi

2. Interaksi sosial

3. Gangguan sensoris

4. Pola bermain

5. Perilaku

6. Emosi


Apa Penyebab Autistik?
Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan
penting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan mengalami
gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan
beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalami
gangguan yang sama.

Selain itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur; nutrisi yang
buruk; perdarahan; keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat menghambat
pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung
terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi.

Akhir-akhir ini dari penelitian terungkap juga hubungan antara gangguan
pencernaan dan gejala autistik. Ternyata lebih dari 60 % penyandang autistik
ini mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebut
berupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercerna
dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi
asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino
yang seharusnya dibuang lewat urine. Ternyata pada penyandang autistik,
peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk ke
otak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dan
gliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi
otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif,
reseptif, atensi dan perilaku.
II. KARAKTERISTIK
Anak autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang:

1. Komunikasi:

- Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.

- Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna,

- Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

- Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain

- Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi

- Senang meniru atau membeo (echolalia)

- Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya

- Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa

- Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu

2. Interaksi sosial:

- Penyandang autistik lebih suka menyendiri

- Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan

- tidak tertarik untuk bermain bersama teman

- Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh

3. Gangguan sensoris:

- sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk

- bila mendengar suara keras langsung menutup telinga

- senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda

- tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut

4. Pola bermain:

- Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,

- Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,

- tidak kreatif, tidak imajinatif

- tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar

- senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda,

- dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana

5. Perilaku:

- dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)

- Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang,
mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke
pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang

- tidak suka pada perubahan

- dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong

6. Emosi:

- sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan

- temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya

- kadang suka menyerang dan merusak

- Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri

- tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain
III. IDENTIFIKASI 1. Diagnosa Autisme
Waktu adalah bagian terpenting. Jika anak memperlihatkan beberapa gejala
diatas segera hubungi psikolog klinis, dokter ahli perkembangan, anak,
psikiater anak atau neurologis khusus autistik dan gangguan perkembangan
yang akan membuat suatu assesstment/pengkajian yang diikuti dengan penegakan
diagnosa. Jika terdiagnosa dini, maka anak autistik dapat ditangani segera
melalui terapi-terapi terstruktur dan terpadu. Dengan demikian lebih terbuka
peluang perubahan ke arah perilaku normal
IV. BAGAIMANA PENANGANAN LAYANAN PENDIDIKANNYA
Layanan Pendidikan Awal:

A. Program Intervensi Dini:

1. Discrete Trial Training dari Lovaas: Merupakan produk dari Lovaas dkk
pada Young Autistikm Project di UCLA USA, walaupun kontroversial, namun
mempunyai peran dalam pembelajaran dan hasil yang optimal pada anak-anak
penyandang autistik. Program Lovaas (Program DTT) didasari oleh model
perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) yang merupakan faktor
utama dari program intensive DTT. Pengertian dari Applied Behavioral
Analysis (ABA), implementasi dan evaluasi dari berbagai prinsip dan tehnik
yang membentuk teori pembelajaran perilaku (behavioral learning), adalah
suatu hal yang penting dalam memahami teori perilaku Lovaas ini.

Teori pembelajaran perilaku (behavioral learning) didasari oleh 3 hal:

Perilaku secara konseptual meliputi 3 term penting yaitu
antecedents/perilaku yang lalu, perilaku, dan konsekwensi.

Stimulus antecendent dan konsekwensi sebelumnya akan berefek pada
reaksi perilaku yang muncul.

Efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap
antecendent dan konsekwensi. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang
positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Sehingga perilaku yang baik
dapat terus dilakukan, sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time
out, hukuman, atau dengan kata 'tidak'). Dalam teknisnya, DTT terdiri dari 4
bagian yaitu:

- stimuli dari guru agar anak berespons

- respon anak

- konsekwensi

- berhenti sejenak,dilanjutkan dengan perintah selanjutnya

2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for preschooler and parents)

Intervensi LEAP menggabungkan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dan
tehnik ABA dalam sebuah program inklusi dimana beberapa teori pembelajaran
yang berbeda digabungkan untuk membentuk sebuah kerangka konsep. Meskipun
metoda Ini menerima berbagai kelebihan dan kekurangan pada anak-anak
penyandang autistik, titik berat utama dari teori dan implementasi praktis
yang mendasari program ini adalah perkembangan sosial anak. Oleh sebab itu,
dalam penerapan ini teori autistik memusatkan diri pada central social
deficit. Melalui beragamnya pengaruh teoritis yang diperolehnya, model LEAP
menggunakan teknik pengajaran reinforcement dan kontrol stimulus. Prinsip
yang mendasarinya adalah :

1. Semua anak mendapat keuntungan dari lingkungan yang terpadu

2. Anak penyandang autistik semakin membaik jika intervensi berlangsung konsisten baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat

3. Keberhasilan semakin besar jika orang tua dan guru bekerja bersama-sama

4. Anak penyandang autistik bisa saling belajar dari teman-teman sebaya
mereka

5. Intervensi haruslah terancang, sistematis, individual

6. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan yang normal akan mendapat keuntungan dari kegiatan yang mencerminkan DAP.

Kerangka konsep DAP berdasarkan teori perilaku, prinsip DAP dan inklusi.

3. Floor Time:

Pendekatan Floor Time berdasarkan pada teori perkembangan interaktif
yang mengatakan bahwa perkembangan ketrampilan kognitif dalam 4 atau 5 tahun
pertama kehidupan didasarkan pada emosi dan relationship (Greenspan & Wieder
1997a). Jadi hubungan pengaruh dan interaksi merupakan komponen utama dalam
teori dan praktek model ini.

Greenspan dkk mengembangkan suatu pendekatan perkembangan terintegrasi untuk
intervensi anak yang mempunyai kesulitan besar (severe) dalam berhubungan
(relationship) dan berkomunikasi, dan tehnik intervensi interaktif yang
sistematik inilah yang disebut Floor Time. Kerangka konsep program ini
diantaranya:

- pentingnya relationship

- enam acuan (milestone) sosial yang spesifik

- teori hipotetikal tentang autistik

4. TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children)

Divisi TEACCH merupakan program nasional di North Carolina USA, yang
melayani anak penyandang autistik, dan diakui secara internasional sebagai
sistem pelayanan yang tidak terikat/bebas. Dibandingkan dengan ketiga
program yang telah dibicarakan, program TEACCH menyediakan pelayanan yang
berkesinambungan untuk individu, keluarga dan lembaga pelayanan untuk anak
penyandang autistik. Penanganan dalam program ini termasuk diagnosa,
terapi/treatment, konsultasi, kerjasama dengan masyarakat sekitar, tunjangan
hidup dan tenaga kerja, dan berbagai pelayanan lainnya untuk memenuhi
kebutuhan keluarga yang spesifik. Para terapis dalam program TEACCH harus
memiliki pengetahuan dalam berbagai bidang termasuk, speech pathology,
lembaga kemasyarakatan, intervensi dini, pendidikan luar biasa dan
psikologi. Konsep pembelajaran dari model TEACCh berdasarkan tingkah laku,
perkembangan dan dari sudut pandang teori ekologi, yang berhubungan erat
dengan teori dasar autisme.



B. Program Terapi Penunjang:

Beberapa jenis terapi bagi anak autistik, antara lain:

1. Terapi Wicara: membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak berbicara lebih baik

2. Terapi Okupasi: untuk melatih motorik halus anak

3. Terapi Bermain: mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain

4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy): dengan pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

5. Terapi melalui makanan (diet therapy): untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu

6. Sensory Integration Therapy: untuk anak-anak yang mengalami gangguan pada sensorinya

7. Auditory Integration Therapy: agar pendengaran anak lebih sempurna

8. Biomedical treatment/therapy: penanganan biomedis yang paling mutakhir, melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphin, alergen, dsb)



C. Layanan Pendidikan Lanjutan

Pada anak autistik yang telah diterapi dengan baik dan memperlihatkan keberhasilan yang menggembirakan, anak tersebut dapat dikatakan "sembuh" dari gejala autistiknya.

Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunya
sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal,
serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya.

Pada saat ini anak sebaiknya mulai diperkenalkan untuk masuk kedalam
kelompok anak-anak normal, sehingga ia (yang sangat bagus dalam
meniru/imitating) dapat mempunyai figur/role model anak normal dan meniru
tingkah laku anak normal seusianya.

1. Kelas Terpadu sebagai kelas transisi:
Kelas ini ditujukan untuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu
dan terrstruktur, dan merupakan kelas persiapan dan pengenalan akan
pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa, tetapi melalui tata cara
pengajaran untuk anak autistik ( kelas kecil dengan jumlah guru besar,
dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten,
dsb).
Tujuan kelas terpadu adalah:
1. Membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler2.
Belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler, sehingga
dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya
Prasyarat:

1. Diperlukan guru SD dan terapis sebagai pendamping, sesuai dengan
keperluan anak didik (terapis perilaku, terapis bicara, terapis okupasi dsb)

2. Kurikulum masing-masing anak dibuat melalui pengkajian oleh satu team
dari berbagai bidang ilmu ( psikolog, pedagogi, speech patologist, terapis, guru dan orang tua/relawan)

3. Kelas ini berada dalam satu lingkungan sekolah reguler untuk
memudahkan proses transisi dilakukan (mis: mulai latihan bergabung dengan
kelas reguler pada saat olah raga atau istirahat atau prakarya dsb)



2. Program inklusi (mainstreaming)

Program ini dapat berhasil bila ada:

1. Keterbukaan dari sekolah umum

2. Test masuk tidak didasari hanya oleh test IQ untuk anak normal

3. Peningkatan SDM/guru terkait

4. Proses shadowing/dapat dilaksanakan Guru Pembimbing Khusus (GPK)

5. Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang ia mampu saja (Mempunyai
IEP/Program Pendidikan Individu sesuai dengan kemampuannya)

6. Anak dapat "tamat" (bukan lulus) dari sekolahnya karena telah selesai
melewati pendidikan di kelasnya bersama-sama teman sekelasnya/peers.

7. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi 1:1 di sekolah umum

Anak autistik mempunyai cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang tidak
merata disemua bidang, misalnya pintar matematika tapi tidak suka menulis dsb.

Ciri khas pada anak autistik:

1. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain

2. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi orang lain atas perbuatannya.

3. Pemahaman anak sangat kurang, sehingga apa yang ia baca sukar
dipahami. Misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang menggunakan kalimat

4. Anak kadang mempunyai daya ingat yang sangat kuat, seperti perkalian, kalender, dan lagu-lagu

5. Anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners)

6. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya, seperti sukar bekerjasama dalam kelompok, bermain peran dsb.

7. Anak sukar mengekspresikan perasaannya, seperti mudah frustasi bila tidak dimengerti dan dapat menimbulkan tantrum

Kesulitan-kesulitan anak pada bulan-bulan pertama antara lain:

1. Kesulitan berkonsentrasi

2. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru

3. Perilaku anak masih sulit diatur

4. Anak berbicara/mengoceh atau tertawa sendiri pada saat belajar

5. Timbul tantrum bila tidak mampu mengerjakan tugas

6. Komunikasi belum lancar dan tidak runtut dalam bercerita

7. Pemahaman akan materi sangat kurang

8. Belum mau bermain dan berkerjasama dengan teman-temannya

Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autistik didampingi oleh seorang
terapis yang berfungsi sebagai shadow/guru pembimbing khusus (GPK). Tugas
seorang shadow guru pembimbing khusus (GPK) adalah:

1. Menjembatani instruksi antara guru dan anak

2. Mengendalikan perilaku anak dikelas

3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi

4. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya

5. Menjadi media informasi antara guru dan orangtua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.

Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam
mendampingi anak penyandang autistik pada saat diperlukan, sehingga proses
pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Guru kelas tetap mempunyai
wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya
peraturan yang berlaku.

3. Sekolah Khusus:

Pada kenyataannya dari kelas Terpadu terevaluasi bahwa tidak semua anak
autistik dapat transisi ke sekolah reguler. Anak-anak ini sangat sulit untuk
dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi di sekeliling mereka. Beberapa
anak memperlihatkan potensi yang sangat baik dalam bidang tertentu misalnya
olah raga, musik, melukis, komputer, matematika, ketrampilan dsb. Anak-anak
ini sebaiknya dimasukkan ke dalam Kelas khusus, sehingga potensi mereka
dapat dikembangkan secara maksimal.

Contoh sekolah khusus: Sekolah ketrampilan, Sekolah pengembangan olahraga,
Sekolah Musik, Sekolah seni lukis, Sekolah Ketrampilan untuk usaha kecil,
Sekolah komputer, dlsb.



4. Program sekolah dirumah (Homeschooling Program):

Adapula anak autistik yang bahkan tidak mampu ikut serta dalam Kelas Khusus
karena keterbatasannya, misalnya anak non verbal, retardasi mental, masalah
motorik dan auditory dsb. Anak ini sebaiknya diberi kesempatan ikut serta
dalam Program Sekolah Dirumah (Homeschooling Program). Melalui bimbingan
para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orangtua dan orang-orang
disekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak. Kerjasama guru dan
orangtua ini merupakan cara terbaik untuk men-generalisasi program dan
membentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bila
memungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru sekolah dan terapis
di rumah anak-anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaan
pendidikan yang setara dengan sekolah reguler/SLB untuk bidang yang ia
kuasai. Dilain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga dan
masyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorang
autistik.



IV. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AUTISTIK

A. Pelaksanaan Indentifikasi anak Autistik harus mengacu pada :

1) Rujukan untuk Terapi

Rujukan diperoleh dari:

a. Guru TK/Playgroup/TPA

b. Orang tua

c. Tenaga Ahli

2) Asesment

Asesment dilakukan oleh satu team yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu
seperti :

a. Dokter

b. Psikolog

c. Speech patologis

d. Terapis

e. Guru

f. Orang tua

g. Relawan



1. Asesment didasari oleh :

a. Pedoman Kurikulum TK dan SD tahun 1994

b. Pedoman Observasi untuk anak autistik

c. Behavioral intervention manual dari Chatherine Maurice

d. Observasi klinis

e. Masukan dari orang tua

f. Rujukan dari guru, orang tua, dan tenaga ahli



2. Hal-hal yang dikaji :

a. Kognitif

b. Motorik kasar

c. Motorik halus

d. Bahasa dan komunikasi

e. Interaksi sosial

f. Bantu diri (self help)

g. Penglihatan

h. Pendengaran

i. Nutrisi

j. Otot-otot mulut



3) IEP/Individual Educational Plan and Program

IEP didasari oleh kebutuhan dan kemampuan anak untuk mengejar
ketertinggalannya dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.

4) Persetujuan Orang Tua

Orang tua harus memiliki komitmen terhadap IEP ikut serta dalam
kelompok kerja (Team work) yang terlibat dalam pendidikan anak

5) Evaluasi

Evaluasi pendidikan untuk anak autistik meliputi :

a. Evaluasi proses : untuk penilaian guru terhadap anak
dalam setiap hari,

b. Evaluasi bulanan : laporan dari orang tua kepada guru,
atau sebaliknya,

c. Evaluasi catur wulan : laporan untuk orang tua berbentuk
deskripsi kemampuan anak dengan penilaian kualitatif.



B. PENGEMBANGAN KURIKULUM

Anak autistik memiliki kemampuan yang berdeferensiasi, serta proses
perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu
dengan yang lainnya. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih, dimodifikasi
dan dikembangkan oleh guru/pelatih/terapis/pembimbing, dengan bertitik tolak
pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Pemilihan
dan modifikasi kurikulum juga disesuaikan dengan tingkat perkembangan
kemampuan anak, dan ketidakmampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber
daya/lingkungan yang ada.

Pelayanan pendidikan bagi anak autistik akan lebih baik apabila dimulai
sejak dini (intervensi dini). Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu
pada :

1. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun)

2. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5- tahun)

3. Kurikulum Sekolah Dasar

4. Kurikulum SLB Tuna Rungu

5. Kurikulum SLB Tunarungu dan Tunagrahita

Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum
tersebut, dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan)
anak, dengan modifikasi. Kurikulum bagi anak autistik dititik beratkan pada
pengembangan kemampuan dasar, yaitu :

1. Kemampuan dasar kognitif

2. Kemampuan dasar bahasa/Komunikasi

3. Kemampuan dasar sensomotorik

4. Kemampuan dasar bina diri, dan

5. Sosialisasi.

Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada
kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/ kalendernya, maka kurikulum
dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik,
meliputi kemampuan : membaca, menulis, dan matematika (berhitung).

C. KETENAGAAN

Ketenagaan dalam penyelenggaraan pendidikan autistik meliputi beberapa
komponen yang sangat terkait satu dengan yang lain. Yang akan kita jelaskan
di bawah ini :

1) Tenaga Kependidikan

Tenaga kependidikan yang dimaksud disini, bisa guru atau terapis.

Tenaga kependidikan untuk anak autistik ini idealnya dari disiplin
ilmu yang sesuai seperti PGTK, PGSD dan Sarjana PLB atau Sarjana Psikolog.
Bukan berarti dari disiplin ilmu yang lain tidak mampu dalam menangani anak
autistik. Tetapi harus ada pelatihan dan bimbingan. Karena yang paling
diperlukan dalam diri seorang pendidik terutama dalam penanganan terhadap
anak autistik adalah:

1. Mau menerima dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sepenuh
hati dan disertai rasa kasih sayang.

2. Mau banyak belajar untuk memperbanyak pengetahuan dan wawasan.

Tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
terhadap anak diperlukan kreativitas yang tinggi. Karena perlu diketahui
bahwa penanganan anak autistik tidak bisa disamakan antara anak yang satu
dengan anak yang lain.

2) Tenaga Non kependidikan para akademisi/profesional terkait.

Selain tenaga kependidikan dalam penanganan terhadap anak autistik
yang sangat berperan adalah :

a. Tenaga Terapi Perilaku

Perilaku menjadi dasar bagi terapi selanjutnya

b. Tenaga terapi wicara :

Karena seperti kita ketahui banyak anak autistik yang juga mengalami
gangguan dalam berbahasa atau berkomunikasi.

c. Tenaga Terapi Sensori Motorik Integrasi :

Contoh dalam materi penjaskes SLB Tunagrahita

d. Yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan pendidikan untuk anak
autistik adalah

- Orang Tua

- Psikolog

- Psikiater

- Dokter

- Relawan

- Dan tanaga ahli yang lain seperti : ahli gizi, dlsb.

3) Tenaga administrasi

Tanaga administrasi juga sangat diperlukan untuk membantu
penyelenggaraan pendidikan anak autistik. Adapun tujuannya untuk membantu
memperlancar tugas-tugas dari penyelenggara pendidikan anak autistik.

4) Tenaga Penyelenggara (Pengurus Yayasan)

Pengurus yayasan atau tenaga penyelenggara adalah orang yang
mendirikan pendidikan bagi anak autistik. Sekaligus bertugas sebagai
fasilitator bagi setiap keperluan pendidikan yang didirikan dan bertanggung
jawab terhadap perkembangan sekolah maupun tenaga pengelola yang ada sekolah
tersebut.

5) Tenaga Pengelola (Pemimpin Sekolah)

Tenaga pengelola merupakan jembatan antara orang tua, lingkungan dan
pihak penyelenggara serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru atau
terapisnya.



D. SARANA DAN PRASARANA

Sarana dan prasarana ini disesuaikan dengan tahapan usia sekolah sebagai
berikut :

I. Usia Pendidikan Prasekolah

- Alat Peraga : pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka,
benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan.

- Alat bantu komunikasi : berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan
komunikasi dari anak.

- Alat bantu pengembangan motorik halus : cara memegang pensil,
menggunting, mewarna, dan sebagainya

- Alat bantu pengembangan motorik kasar : bola, tali, dlsb.

- Kurikulum Tanan Kanak-kanak

- Terapi wicara (terapi dan alatnya) baik manual atau elektronik

- Terapi sensori motorik integrasi (ayunan, lorong, balok titian dan
sebagainya)

II. Usia Pendidikan Sekolah Dasar

- Segala sarana belajar yang ada pada sekolah dasar pada umumnya

- Alat peraga konkrit sebagai penunjang sarana belajar

- Guru pendamping

- Sarana untuk bersosialisasi

III. Usia Pendidikan Menengah

Pada usia ini jika dimungkinkan anak mengikuti kurikulum sekolah
menengah maka sarana belajar bisa mengikuti sarana yang diperlukan untuk
sekolah menengah akan tetapi jika anak harus berada pada sekolah khusus,
maka sarana yang dibutuhkan harus mengacu pada pengembangan kemampuan
fungsional yang ada pada setiap anak autistik.



E. PENDANAAN

Pendidikan bagi anak autistik memang memerlukan biaya yang mahal, karena
pola pengajaran yang individual (satu anak, satu guru). Oleh karena itu
diperlukan peranan masyarakat dan orang tua siswa yang lebih besar.

F. MANAJEMEN

Pelayanan pendidikan bagi anak autistik merupakan suatu kegiatan yang
terpadu dan juga melibatkan unsur-unsur sebagai berikut :

1. Orang tua, merupakan pemegang peran utama dalam penanganan anak
autistik karena interaksi anak dengan orang tua lebih besar porsinya
dibandingkan dengan di sekolah.

2. Tenaga pendidik, dimana yang berhubungan langsung dengan anak didik
sehingga dalam memberikan evaluasi yang lebih akurat dan mengoptimalkan
pembelajaran.

3. Penyelenggara pendidikan, sebagai penanggung jawab kurikulum dan
penyedia sarana dan prasarana pendidikan bagi anak autistik maka peran serta
mereka mutlak diperlukan guna memberikan tempat pelayanan pendidikan yang
memadai.

4. Tenaga profesional (dokter, terapis, psikolog) yang berfungsi untuk
mendeteksi dan menangani, anak autistik secara berkesinambungan dan
integral.

5. Lembaga pemerintah sebagai fasilitator, dan juga sekaligus mengawasi
program pelayanan pendidikan anak autistik

Dari masing-masing unsur tersebut harus berbentuk suatu jaringan kerja
sehingga dapat mengembangkan program-program yang bersifat inovatif secara
berkelanjutan dan mampu memberikan pelayanan pendidikan bagi anak autistik.

G. LINGKUNGAN

Lingkungan bagi anak yang manapun, tidak hanya dilaksanakan didalam
gedung, tetapi juga diluar gedung. Khusus untuk pendidikan di luar gedung,
maka sebaiknya lingkungan difahamkan dulu tentang anak autistik, seperti
lingkungan bisa bersikap yang tepat pada anak autistik. Lingkungan yang
dimaksud adalah :

1. Keluarga tempat dimana anak autistik berada, yaitu Bapak, Ibu, Kakak,
Adik, Kakek, Nenek, Pembantu, dlsb.

2. Masyarakat sekitar tempat pendidikan

3. Masyarakat pemilik sarana integrasi dan sosialisasi bagi anak autistik.

4. Masyarakat secara luas sehingga perlu informasi melalui media cetak,
elektronik, penyuluhan, seminar, dlsb.



H. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa (anak autistik)
yang belajar dan guru pembimbing yang mengajar. Dalam upaya membelajarkan
anak autistik tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak autistik
harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak autistik pada
umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka
guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak autistik.

Komponen-komponen yang harus ada dalam kegiatan belajar mengajar adalah :

1. Anak didik

Yakni anak autistik dan anak-anak yang masuk dalam spektrum autistik.

2. Guru pembimbing

Seorang guru pembimbing anak autistik harus memiliki dedikasi,
ketelatenan, keuletan dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya.
Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan
pengajaran untuk anak autistik.



Prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran

Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakan
berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Terstruktur

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip
terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran
dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh
anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar
yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari
materi sebelumnya.

Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna
dari instruksi "Ambil bola merah". Maka materi pertama yang harus
dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata "ambil", "bola". dan
"merah". Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah
selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi "Ambil bola merah" kedalam
perbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik
meliputi :

- Struktur waktu

- Struktur ruang, dan

- Struktur kegiatan



b. Terpola

Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola
dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari
bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus
dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang,
dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas
yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih
mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
(adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior
therapi).

c. Terprogram

Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang
ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan
erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan
harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak,
sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target
program yang kedua, demikian pula selanjutnya.

d. Konsisten

Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik,
prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku
positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka
guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan),
begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebut
juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara
tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan
perilaku sebelumnya.

Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsisten
mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru
pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak
sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu
anak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam
mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul
dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam
pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan
terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama
antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran
di sekolah dan dirumah.

e. Kontinyu

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan
pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik.
Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran,
program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan
pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk
kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapi
perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secara
berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).

3. Kurikulum

Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik
tentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang berorientasi pada
kemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasi
masing-masing individu.

4. Pendekatan dan Metode

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik menggunakan Pendekatan
dan program individual. Sedangkan metode yang digunakan adalah merupakan
perpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan
kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.
Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang memberikan gambaran
kongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi
dan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.

5. Sarana Belajar Mengajar

Sarana belajar diperlukan, karena akan membantu kelancaran proses
pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara kongkrit bagi
anak autistik. Pola pikir anak autistik pada umumnya adalah pola pikir
kongkrit. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus kongkrit.
Beberapa anak autistik dapat berabstraksi, namun pada awalnya mereka dilatih
dengan sarana belajar yang kongkrit.

6. Evaluasi

Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu
dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Dalam pendidikan dan pengajaran bagi
anak autistik evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

1. Evaluasi Proses

Evaluasi Proses ini dilakukan dengan cara seketika pada saat proses
kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku
menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Hal
ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi
secara visual dan kongkrit.

Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana progres yang dicapai anak
dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.

2. Evaluasi Bulan

Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau
permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah.
Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan
perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkan
pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencari
penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macam
apa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Hal
ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi
bersama atau case conference.

3. Evaluasi Catur Wulan

Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud
sebagai tolok ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuan
program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak,
maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan
bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak, sebaliknya apabila program
belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial)
atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian
program.

Faktor Penentu Keberhasilan Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak Autistik.

Tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak
autistik dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Berat - ringannya kelainan/gejala

2. Usia pada saat diagnosis

3. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa

4. Tingkat kelebihan (strengths) dan kekurangan (weaknesses) yang dimiliki
anak

5. Kecerdasan/IQ

6. Kesehatan dan kestabilan emosi anak

7. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru, kurikulum, metode, sarana
pendidikan, lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).



Hambatan Proses Belajar Mengajar dan Solusinya.

1. Masalah prilaku

Masalah perilaku yang sering muncul yaitu : stimulasi diri dan
stereotip.

Bila perilaku tersebut muncul yang dapat kita lakukan :

i. Memberikan Reinforcement.

ii. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri

iii. Siapkan kegiatan yang menarik dan positif

iv. Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak, tidak menyakiti diri.

2. Masalah Emosi :

Masalah ini menyangkut kondisi emosi yang tidak stabil, misalnya;
menangis, berteriak, tertawa tanpa sebab yang jelas, memberontak, mengamuk,
destruktif, tantrum dlsb.

Cara mengatasinya :

1) Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya

2) Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang.

3) Setelah kondisi emosinya mulai membaik, kegiatan dapat dilanjutkan.

3. Masalah Perhatian. (Konsentrasi)

Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu
yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik
bagi anak.

Untuk itu maka usaha yang harus diupayakan oleh pembimbing adalah:

a. Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap.

b. Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi.

c. Istirahat sebentar kemudian kegiatan dilanjutkan kembali, dimaksudkan
untuk mengurangi kejenuhan pada anak, misal : dengan menyanyi, bermain,
bercanda, dlsb.

4. Masalah Kesehatan.

Bila kondisi kesehatan siswa kurang baik, maka kegiatan belajar
mengajar tidak dapat berjalan secara efektif, namun demikian kegiatan
belajar tetap dapat dilaksanakan, hanya saja dalam pelaksanaannya
disesuaikan dengan kondisi anak.

5. Orang Tua

Untuk memberikan wawasan pada orang tua, perlu dibentuk Perkumpulan
Orang Tua Siswa, sebagai sarana penyebaran berbagi pengalaman sesama seperti
informasi baru dari informasi internet, buku-buku bahkan jika mungkin tatap
muka dengan tokoh yang berkaitan dalam pendidikan untuk anak autistik atau
anak dengan kebutuhan khusus.

6. Masalah Sarana Belajar

Dengan menyediakan materi-materi yang mungkin diperlukan untuk
kepentingan terapi anak-anaknya misalnya :

- Textbook berbahasa Inggris dan Indonesia,

- Buku-buku pelajaran siswa,

- Kartu-kartu PECS, Compics, Flashcard, dlsb,

- Pegs, balok kayu, puzzle dan mainan edukatif lainnya.



Source (Sumber) : Dikdasmen Depdiknas

Akhir tahun 2004
< a href="http://puterakembara.org/archives10/jurnal10.shtml">

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy