Menyusuri Perjalanan Pendidikan Yansen

di SMP Regular


-- Jilid Kedua --

Yansen-web

10/07/2009

Oleh: Anton Hardjofo (Ayah Yansen)



Bagian Pertama

Sekolah adalah masalah rumit bagi para orang tua yang dikaruniakan anak special pada umumnya, namum kami terus berusaha kalau bisa anak kami masuk sekolah umum. Kenapa tidak? Memang semua kembali kepada kondisi dan tingkat kemampuan masing-masing anak. Kalau memang gak bisa ya jangan dipaksakan, prinsipnya mengoptimalkan potensi anak, sampai dimana kemampuannya, dimana bakatnya, itulah yang harus digali. Dan kami sangat setuju dengan beberapa pakar dan praktisi dunia anak kebutuhan khusus "Sekolah untuk AKK tidak harus formal, apalagi hanya untuk mengejar ijazah, tapi intinya bagaimana menjadi mandiri sesuai pontensi yang ada dalam diri masing-masing anak untuk mengisi kehidupannya kelak".

Setelah lulus SD regular yang kisahnya bisa dibaca DISINI anak kami Yansen Hardjoko masuk SMP umum di Yayasan yang sama. Pertimbangan kami adalah lingkungan yang sudah familiar pasti lebih mendukung dari pada harus beradaptasi dengan suasana baru di tempat lain. Tetapi kali ini kami menuai badai sebab ternyata Yayasan itu sudah beralih kepemilikan dan pemilik baru mulai berkuasa saat awal tahun masuk sekolah, sedangkan ketika mendaftar kami masih berurusan dengan pengurus lama. Pemilik baru membentuk management baru dimana kepala sekolah baik SD maupun SMP diganti, guru guru sebagian besar diganti jadi praktis tidak banyak yang kenal Yansen yang notabene tamatan setempat, maka pergumulan babak barupun dimulai kembali.

Hari pertama masuk sekolah Yansen yang sudah bangga dengan seragam putih birunya harus berurusan dengan kepala sekolah baru dipintu gerbang. Sang kepsek merasa aneh dengan tingkah laku anak kami yang special, dan segera menegor mama Yansen yang mengantarnya, "Ada apa dengan anak ibu?" Lalu mama Yansen bingung juga dan menjawab:”Anu pak anak ini AUTIS.” Spontan reaksi kepsek baru itu berkata: “Wah ini gak bisa bu sekolah disini." Tenang dulu pak, balas mama Yansen, anak kami ini sekolah dan lulus SD ditempat ini, 6 tahun saja bisa kok, bapak baru ketemu saja bilang ngak bisa. Kemudian menjelaskan saat pendaftaranpun pengurus lama mensyaratkan suatu kompensasi yang sudah disepakati bagi anak kami untuk masuk SMP dengan kondisi yang sudah diketahui sebelumny. Setelah dikonfirmasi dengan petugas tata usaha ternyata benar dan Yansen diijinkan masuk.

Ketika kegiatan belajar mengajar dimulai, ternyata di kelas Yansen yang berjumlah 43 anak itu ada 2 (dua) orang anak autis yaitu Yansen yang alumni SD setempat dan Ryan yang SDnya sudah beberapa kali pindah sekolah. Hal ini menambah parah kondisi kelas karena Yansen maunya pintu ditutup, sedangkan Ryan maunya pintu dibuka. Jadi sejak semula sudah bermasalah sehingga memicu kekacauan di kelas. Kami orang tua anak bermasalah dipanggil kepsek dan diultimatum kalau dalam 3 bulan prestasi anak ternyata tidak memenuhi standard kurikurum SMP umum maka kami diminta mundur dan mencari sekolah yang sesuai kemampuan siswa. "Ini SMP umum jadi disini tidak ada dispensasi." kata kepsek saat pertemuan pertama.
Selama 3 bulan mama Yansen dan mama Ryan menjaga anak masing-masing sambil memantau perkembangan, dan ternyata setelah 3 bulan Ryan dikeluarkan karena kondisinya sangat tidak mendukung, tidak bisa mengikuti kelas regular baik secara akademis maupun pola tingkah lakunya sangat memprihatinkan.

Walaupun Yansen secara akademis tidak ada kendala namun tingkah lakunya belum kondusif, hal inilah yang masih merupakan pergumulan kami. Konsentrasi saat belajar belum tenang, responnya tidak spontan saat ditanya, tetapi kalau ada soal yang gak bisa dia ngotot ke gurunya untuk minta diajari sampai bisa. Hal yang agak susah dikontrol adalah waktu istirahat, karena ada saja teman-temannya yang iseng kerjain Yansen. BULLYING adalah suatu hal yang susah dihindari apalagi bagi anak seusia SMP. Oleh karena itu kami selalu menyempatkan waktu datang menjenguk Yansen waktu jam istirahat sambil membawakan makanan karena masih diet CFGF, jadi kami tidak biasakan Yansen jajan, tetapi makanan kami sediakan waktu istirahat. Bagi Yansen makanan sangat berpengaruh, kalau salah mengkonsumsi makanan yang ada kandungan casien & gluten langsung berdampak buruk (tambah aktif dan susah dikendalikan).

Pada waktu istirahat itulah mama Yansen bisa mendapatkan laporan dari teman teman Yansen tentang apa saja yang terjadi selama kelas berlangsung, juga bila ada anak yang ngerjain/bullying pasti sampai kepada kami. Untuk mengatasinya, biasanya mama Yansen mengusahakan pendekatan kepada anak-anak yang suka iseng memanfaatkan kelemahan anak SN, supaya mereka tidak lagi melakukan hal yang melecehkan anak anak SN tetapi mendukungnya. Agar mereka bertanggung jawab terhadap sesama teman, biasanya kami beri tanggung jawab "Nak kamu kan lebih pintar dari Yansen titip yah, jangan sampai ada yang gangguin" Hasilnya walaupun tidak sesuai keinginan kami tapi lumayanlah, banyak yang lebih peduli, bahkan kalau kami telat jemput ada temannya yang mau ajak Yansen pulang bareng diantarin lagi sampai ke rumah. Kalau ada informasi ada temannya yang mau telepon menberitahukan.

Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung Yansen tidak pernah bolos. Iitu memang point positipnya, kalau soal disiplin selalu on time. Kalau kami mengantarnya telat waduh bisa ngamuk dia. Dan kalau sampai sekolah sudah bell, dia bisa lari lari menuju kelasnya sebelum gurunya masuk, sebab dia ngak mau dihukum. Semangat belajarnya tinggi, jadi kalau ada PR pulang sekolah langsung dikerjain, kalau ada yang ngak bisa dia ngomong. Demikian juga kalau ada ulangan/ujian pulang sekolah langsung belajar bahkan dia gak mau kerjakan tugas rutinnya dirumah dan yang diutamakan adalah BELAJAR. Tetapi kalau libur, Yansen gak mau belajar.

Ketika tahun pelajaran berakhir ternyata Yansen menunjukan prestasi yang baik, semua nilai pelajarannya diatas SKBM. Keadaan Yansen juga kami pantau terus sehingga berlangsung kondusif. Tidak ada hal yang mengganggu ketertiban, teman teman juga familiar, apalagi secara akademis bisa mengikuti, maka pihak sekolah tidak ada alasan untuk menolak Yansen, karena sudah wajar naik kelas II. Tetapi waktu ambil Raport kepsek kembali berkata kepada kami, tahun depan semua peraturan diperbaharui, karena gedung sekolah sudah selesai diupgrade, jadi mutu sekolahpun ditingkatkan dimana yang paling dominan adalah "Perketat Security". Orang tua dan para pengantar anak tidak lagi diperkenankan masuk halaman sekolah, semua harus tunggu diluar pagar, jadi untuk Yansen pihak sekolah kasih waktu 3 bulan, seandainya tidak bisa mengikuti peraturan baru dan menimbulkan ganggguan akan diminta pindah. Karena gak bisa berbuat apa apa, kami mengiyakan saja. Setelah itu Yansen menikmati masa libur panjang sebulanan. Setelah berjuang setahun mengikuti pelajaran dan ulangan, dia berhak naik kelas DUA.

Bagi kami Yansen yang secara akademik sudah bisa mengikuti kurikurum pendidikan umum bukan berarti tidak ada masalah. Kesulitannya adalah masalah TINGKAH LAKU dan ETIKA yang masih sangat kental aroma SPECIALnya. Jadi secara kasat mata setiap orang yang berinteraksi dengannya tahu dia anak SN. Meski sudah berulang-ulang diajarkan ETIKA dan Yansen sudah respon dan bisa mengucapkan "Yansen harus sopan ya kalau masuk rumah orang harus permisi dulu", tetapi besoknya dia nyelonong lagi, gak peduli rumah siapa main masuk aja jadi kami benar benar kewalahan. Apalagi sejak masuk SMP rumah kami pindah depan PASAR, ruko yang setiap saat pintu terbuka tidak gampang menjaganya. Rumah tetangga semua sudah pernah dia masuki tanpa permisi, membuat kaget penghuninya, bahkan ada yang sampai teriak TOLONG toloooooong ada orang aneh masuk rumah kami sampai orang se RT berkumpul dan kamipun pergi mengamankannya. Belum lagi tempat usaha yang selalu terbuka baik itu toko, salon, klinik, bengkel semua telah menjadi ladang observasinya. Laporan kekesalan, penolakan, keberatan merupakan hal yang sering kami terima tetapi lama kelamaan ada juga yang berempati walaupun tidak sedikit yang sewot. Inilah warna kehidupan yang menjadi bagian hidup kami dalam mengemban tugas MULIA dalam mengiring perjalanan hidup bersama anak SN. Kadang- kadang kami merasa lelah juga, rasanya tidak sanggup menjalankannya, namun kami selalu dikuatkan mengingat semua ini anugrah dan amanah dari ALLAH, yang tidak pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan hambaNYA .


Bagian Ke Dua

Pada saat kegiatan sekolah dimulai dan Yansen mulai belajar di kelas 2, maka peraturan barupun mulai diberlakukan. Semua pengantar mulai dari TK pun tidak diijinkan masuk halaman sekolah, kecuali urusan dengan tata usaha atau kep sek dan staff, yang lain hanya boleh sampai pintu gerbang. Pada kondisi demikian, tidak ada jalan lain kecuali anak kami harus berusaha untuk makin kondusif keadaannya, supaya tidak mengganggu yang lain. Kami selalu ingatkan Yansen saat tiba di gerbang sekolah untuk baik-baik, jangan masuk kelas anak-anak TK dan SD, dan jangan sering keluar masuk kelas sebab itu mengganggu tata tertib. Setiap kali Yansen diingatkan, responnya selalu ya, tetapi pelaksanaannya sering lupa lagi, lupa lagi.

Karena kami dikasih deadline 3 bulan untuk mengkaji apakah Yansen bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan sekolah, apakah bisa melanjutkan atau dikeluarkan dari sekolah, maka yang bisa kami lakukan hanya berserah kepada TUHAN. Tentunya kami tidak hanya berdoa tetapi juga berusaha memperbaiki kelemahan anak kami, antara lain untuk meredam hiperaktifnya kami beri minum air buah pala seperti resep yang kami dapat dari milis PK, murah dan meriah, beli di Bogor cuma 7 ribu sekilo. Buah pala segar khasiatnya lumayanlah bisa agak tenang, tapi dosisnya harus pas, kebanyakkan bisa ngantuk. Kalau mau sekolah minum segelas saja. Selain itu Yansen kembali ikut terapi tingkah laku dan pola berkomunikasi di rumah seorang therapist yang bertugas di RSAB Harkit dan diluar dinas beliau terima di rumahnya yang kebetulan dekat tempat domisili
kami.

Setelah 3 bulan berlalu, ternyata kondisi Yansen sudah kondusif, dia tidak banyak keluar masuk kelas lagi, bahkan saat istirahatpun kadang-kadang masih di dalam kelas mengerjakan tugas yang belum selesai. Hal ini kami tahu dari teman-temannya saat mau mengantar makanan pada jam istirahat. Waktu istirarahat bisa menjadi rawan sebab jam istirahat antara SD dan SMP berbeda, waktu SMP istirahat anak SD sudah masuk, jadi kalau sampai Yansen nyelonong masuk kelas SD berarti mereka sedang belajar. Oleh karena itu kami selalu datang mengamankan Yansen pada jam istirahat sambil membawakan makanan, ketemu di kantin sekolah yang kebetulan orang tua masih bisa masuk dan anak boleh ke kantin waktu jam istirahat. Karena semua berjalan tertib pihak sekolah tidak punya alasan untuk mengeluarkan anak kami.

Sebenarnya kalau tidak ada temannya yang usil Yansen sudah bisa tertib, tetapi anak- anak SMP yang mulai menginjak remaja kadang-kadang sulit menahan gejolak batinnya untuk usil apalagi anak yang agak nakal, bullying selalu sulit dihindarkan. Ada saja yang iseng mengambil milik Yansen walau cuma hal-hal sepele seperti pensil, bolpen, penggaris, penghapus yang bisa menyulut emosinya. Kalau Yansen marah bisa jadi bulan-bulanan anak anak nakal, tapi untungnya banyak yang berempati, sehingga saat gurunya masuk kelas mereka bilang si ANU ganggu Yansen, sehingga keadaannya bisa dinetralisir dan anak yang nakal ditegor gurunya.

Kami tetap pantau ketat perkembangan Yansen saat disekolah, maupun setelah pulang sekolah. Mamanya selalu memantau pelajaran, tugas-tugas dan PR nya, kalau ada yang gak jelas kami menghubungi temannya dan meminjam catatan kalau ada yang ketinggalan maupun tidak lengkap catatannya. Karena mamanya full time menangani Yansen jadi tidak les tambahan diluar. Mamanya yang cari tahu sendiri bidang study tertentu, apalagi math, weleh weleh mumet, tetapi untuk tingkah laku dan pola komunikasi kami ikut terapi 3 kali seminggu di rumah Pak Sumarsono, terapis yang sehari-harinya kerja di RSAB Harapan Kita itu. Hasilnya secara akademik nilainya bagus dan pola komunikasi dan tingkah laku mulai membaik. Semuanya bisa dilihat saat terima raport semester pertama, semua nilai diatas SKBM , sehingga pihak sekolah tidak mengungkit-ungkit lagi masalah Yansen untuk dikeluarkan dari sekolah. Kami sudah buktikan bisa, dan semuanya karena anugrahNYA. Usaha kami hanyalah tanggung jawab orang tua yang diberi amanah.

Pada saat memasuki semester ke dua awal tahun 2008, kami mulai merintis usaha yang baru akibat krisis ekonomi secara global kamipun kebagian imbasnya. Setelah mama Yansen berhenti kerja, kami buka usaha travel agent di rumah tetapi setelah 5 tahun jalan sempoyongan dan harus tutup. Usaha kami yang lainpun mengalami kendala yang sama karena daya beli yang melemah, bahkan kami harus pindah ke RUKO dimana kami buka usaha untuk efisiensi. Kami beralih ke usaha RUMAH MAKAN dimana menyita waktu yang panjang dan padat karya , sehingga konsentrasi banyak terfokus untuk usaha yang baru ini. Perhatian kepada Yansen agak terabaikan karena mama Yansen sibuk mengurus bisnis baru ini.

Kami terlena oleh kesibukan dan menganggap Yansen sudah tidak ada masalah disekolah. Dibenak kami Yansen pasti sudah aman sampai tamat SMP. Tiba -tiba kami dikejutkan oleh sebuah surat panggilan dari sekolah tgl 5 Maret 08, dimana kami diminta datang oleh Kep sek untuk membicarakan hal yang berhubungan Yansen. Tepat waktu yang diminta tgl 7 maret 08 jam 9 saya datang menghadap kep sek. Topik pembicaraan ternyata balik lagi masalah keSPECIALan Yansen. Sang kepsek mulai mengungkit bahwa pola tingkah laku anak Yansen mengganggu ketertiban sekolah. Beliau berpendapat Yansen tidak bisa berkomunikasi , tidak bisa dibilangin, cuek tidak merespon dengan baik bila ditanya , suka keluar masuk kelas, suka nyelonong masuk kantor guru, bahkan kantor Yayasan dan seenaknya memperlakukan peralatan kantor yang dimasukin. Bahkan katanya belakangan suka masuk kelas SD, sehingga guru-guru dan pengurus yayasan complain kepadanya.

Dalam pertemuan itu sang kep sek mengajak kami mencari solusinya. Dari semua yang diungkapkan, kami sudah tangkap beliau sangat keberatan menanggung beban dari masalah anak kami, terlepas benar atau tidak bahwa Yansen kembali lebih aktif selama 2-3 bulan masuk semester dua di kelas 2 ini, kami tidak bisa pungkiri bahwa apa yang diungkapkan adalah masalah kebanyakan anak SN umumnya. Memang sejak semula sang kepsek tidak punya EMPATI terhadap anak penyandang SN dan beliau selalu mencari cela untuk membuang Yansen yang sangat tidak diharapkan berada dilingkup tanggung jawabnya. Akhir pertemuan itu tercetus kesepakatkan bahwa Yansen hanya diberi kesempatan sampai akhir semester 2 dan saat naik kelas 3 harus mencari sekolah lain. Statement kepala sekolah saat itu: "Maaf kami tidak bisa mengakomodir anak Bapak tolong cari sekolah lain yang bisa". Kami sadar percuma bertahan karena pengurus Yayasan dan pimpinan sekolah ini sama sekali tidak punya EMPATI maka kami pun SEPAKAT untuk pindahkan anak kami setelah kenaikan kelas diakhir semester dua.

Ternyata apa yang telah disepakati tidak bisa direalisasi, karena 10 hari kemudian datang panggilan ke II, dimana kami diminta kembali menghadap kepsek. Saya dan istri datang berdua menghadap . Sang kepala sekolah berkata karena Yansen tidak kondusif dan malah makin agresif, bahkan dikatakan Yansen masuk kantor bisnis bos yayasan yang baru pindah ke komplek sekolahan, menarik-narik kabel computer dan sang bos complain dan marah. Kemudian dikatakan anak kami juga agresif mengejar pelajar-pelajar putri sampai semua menjerit-jerit (yang ini hanya bumbu saja) karena cewek-cewek itu lagi bergerombol kalau Yansen lewat ada yang bilang, eh ada Yansen lalu menyingkir. Nah biasanya memang suka dikejar, mereka lari menghidar dan memang respon cewek sambil berteriak tapi mereka sudah familiar dengan kelakuan Yansen maksudnya bercanda, kecuali ada anak nakal komporin untuk melakukan yang jorok misalnya "Ayo Sen, pegang nenen si Anu.” Nah yang begini kalau kejadian, menjerit-jeritlah mereka. Akhirnya mama Yansen bertanya, jadi intinya apa pak? Lalu beliau berkata :''Yansen tidak bisa lagi dipertahankan di sekolah itu karena pemilik Yayasan tidak mau ada gangguan lagi di lingkungan sekolahnya.

Ini keputusan GILA, bagaimana bisa cari sekolah tinggal 3 setengah bulan lagi KBM semester 2 berakhir. Kemudian kami protes mana bisa bapak kekuarkan Yansen di tengah jalan begitu? Seperti orang naik bis JKT - BDG mana bisa supirnya turunkan penumpang ditengah jalan TOLL, paling tidak harus keluar pintu tol CIKAMPEK dong baru penumpangnya bisa pindah bis lain. Siapa sih yang bisa terima kalau anaknya dikeluarkan ditengah jalan, tanpa peduli bagaimana kelanjutannya. Andai kata ada yang daftar disini saat selang waktu sebelum semester genap berakhir apa diterima? Kami minta responnya.

Tapi apapun dalih kami tetap tidak digubris oleh sang Kepsek yang sudah berusia diatas 60 thn. Karena kami sudah menangkap sinyal beliau benar-benar berniat membuang Yansen , percuma kami berdebat dengan orang yang menutup pintu hatinya. Mereka selalu pakai logika dan nalar bisnis yang kental. Kalau ada satu yang bermasalah ya buang saja, kenapa harus jadi beban. Jadi pengelola sekolah itu pasti menganut dalil yang demikian dan kami seharusnya paham itu wajar dalam dunia sekuler. Karena tidak ada lagi kompromi, kami harus menerima KEPUTUSAN sekolah yang walaupun menurut kami sangat tidak bijaksana, tetapi apa daya . Akhirnya mama Yansen berkata kalau memang niat sekolah ini mau buang Yansen, kami tidak bisa berbuat apa apa, tolong beresin administrasinya. Kemudian sang Kepsek berkata apa yang sudah dibayarkan kepada sekolah tidak bisa dikembalikan lagi, dan mereka hanya akan menyiapkan surat pindah siswa dan minta diambil keesokan harinya. Sebelum kami meninggalkan kantor sekolah sang kepsek bertanya nanti di surat pindah mau ditulis alasan apa? PERTANYAAN ini membuat mama Yansen agak emosi dan menjawab TERSERAH, bapak kan yang mau keluarkan Yansen, jadi bapak pasti sudah tahu alasannya. Sang kepsek merasa terpojok dan berusaha tenang, kemudian beliau lanjutkan bagaimana kalau alasannya kita tulis ‘MENGUNDURKAN DIRI '. Kali ini mama Yansen bereaksi lebih keras: “Pak hanya orang tua SINTING yang mau anaknya mengundurkan diri dari sekolah 3 bulan menjelang kenaikan kelas”. Kami kan tidak pernah minta mundur, semua karena pihak sekolah yang mau, jadi tulis saja alasan yang sebenarnya sambung mama Yansen sengit, kemudian beliau menjawab kalau begitu kami tulis pihak sekolah yang minta mengundurkan diri. Ya terserah bapak sajalah, aku berusaha tenang sambil menyalami sang kepsek untuk meninggalkan ruang kantor sekolah.

Dengan hati yang sangat sedih kami meninggalkan komplek sekolah. Terus terang perasaan kami sangat galau waktu itu, bagaimana kami bisa memberitahu Yansen tentang keputusan ini, apa dia bisa terima atau jangan-jangan dia mengamuk sebab dia sangat tidak bisa untuk tidak sekolah, bahkan sewaktu aktif sekolah dia tidak pernah mau kalau bolos, sekalipun di sekolahnya banjir dia ngotot minta diantar ke sekolah dan setelah melihat tidak bisa sekolah karena sekolah digenang air barulah dia mau kembali ke rumah. Sebelum kami kembali kerumah kami coba mengunjungi beberapa sekolah yang kami prediksi mau terima Yansen, dan kami harus menerima kenyataan memang sangat tidak gampang menemukan sekolah apalagi hanya beberapa bulan lagi tahun pelajaran berakhir. Para pengelola sekolah pasti berasumsi pasti siswa yang pindah sekolah di tengah jalan pasti punya masalah serius di sekolah asalnya, apalagi sekolah di kota yang sama.

Karena hampir bisa dipastikan kalau tidak ada referensi atau kolega yang kenal pengurus sekolah, usaha kami akan sia sia. kami teringat seseorang yang pernah berempati dan menolong Yansen saat SD. Beliau adalah kepsek SD yang juga sudah jadi korban pengurus Yayasan Baru dan saat ini menjadi Wakil kepsek SMP negeri tapi lokasinya jauh dari rumah. Setelah mendapat alamatnya, kamipun segera menemui beliau. Kami ceritakan semuanya ternyata beliau sangat bersimpati pada perjuangan kami. Beliau tahu betul perjuangan kami sebagai ortu anak SN dan tahu potensi Yansen dan yang membuat kami agak tenang beliau berjanji menjadi mediator untuk mempertemukan kami dengan rekan kepsek di dekat lingkungan tempat tinggal kami.
Dalam segala hal kami percaya TUHAN turut bekerja bagi yang percaya kepadaNYA, kami yakin apapun masalahnya adalah atas seijin Sang Khalik. Kalaupun Yansen dikeluarkan dari sekolah, itupun pasti ada hikmahnya dan kalau kita mengerti rencana ALLAH pastilah disediakan jalan keluar. Saat kami menemui jalan buntu maka TUHAN pun buka jalan.

Melalui pendekatan pak Waluyo ex kepsek saat Yansen SD di Yayasan Mutiara Kasih, Yansen diterima untuk meneruskan sisa setengah semester di Yayasan Yustia Puri. Sesuai pesan pak Wal kepada ibu Naniek sang komandan SMP baru, diminta untuk tidak menurun kan Yansen di tengah jalan apapun kondisinya, minimal sampai kenaikan kelas. Saat Yansen masuk, pas lagi ulangan mid semester genap, sekaligus kemampuan akademiknya diuji dan hasilnya ternyata cukup bagus, jadilah Yansen siswa baru dadakan. Semua ini kontribusi pak WALUYO (Terima kasih pak). Anda telah menyelamatkan perjalanan pendidikan Yansen yang nyaris karam karena terbuang dari bahteranya ditengah jalan. Karena mereka yang mau tampung Yansen peduli, jadi masalah administrasinya diurus belakangan dan yang penting Yansen bisa naik bahtera baru, minimal sampai dermaga persinggahan.

Apa yang kami alami ketika Yansen dibuang oleh lembaga pendidikan yang kami pilih untuk mengantar pendidikan adalah hal yang sangat PAHIT, tidak ada kepedulian, bahkan mereka gak mau tahu apa yang terjadi pada anak SN, bahkan sekalipun harus putus sekolah, prinsipnya EGP. Saat itu para ortu yang mendengar perlakuan sekolah tsb terhadap Yansen tersulut ikut MARAH, ada yang ngajak kita DEMO, bahkan ketika kami posting di milis banyak rekan-rekan milis ikutan KESEL, bahkan ada yang minta no telp kepsek yang arogan itu untuk didamprat. Kami maklum perasaan semua pihak yang tidak terima perlakuan yang sangat tidak adil, namun kami berprinsip "Pengadilan tertinggi hanya ada di kerajaan Allah", selama kita masih di dunia ini mana ada Keadilan yang Hakiki. Biarlah kita memberikan tempat penghakiman hanya bagi Tuhan. Ternyata benar lembaga pendidikan yang sudah membuang Yansen akhirnya menuai badai. Anak anak SD yang mau naik kelas 6 pindah separuh, tadinya 2 kelas tinggal 1, bahkan penerimaan murid SMA tahun kedua hanya 5 siswa, bahkan terakhir kami dengar tamatan SD setempat mendaftar ke SMP lain. Iming-iming bebas biaya pangkal pun tidak banyak menahan exodus, apalagi tamatan SMP tidak ada yang berminat masuk SMA setempat. Kami bukannya mau mensyukurin tapi prihatin, kalau pengelola dan pengurusnya gak punya EMPATI, terus arogan mana bisa punya tempat untuk menambat HATI siswa dan ortu, semoga ada hikmahnya bagi kita semua.

Pada saat Yansen dikeluarkan sekolah, kami benar-benar terguncang. Ada lembaga pendidikan yang bernama ‘Mutiara Kasih’ ternyata tidak ada kasih. Bagi siapapun sebagai orang tua pasti merasa sakit apabila anaknya yang dipercayakan kepada lembaga pendidikan untuk dididik malah dibuang seperti sampah. Bayangkan bagaimana tidak pedulinya para pengelola Yayasan tsb. Saat kami mengalami jalan buntu karena belum ada sekolah yang terima Yansen, atas saran salah seorang guru mulok Yansen, kami menghubungi salah satu tangan kanan pengurus yayasan. Beliau aja kaget belum tahu Yansen dikeluarkan , bahkan wali kelasnya tidak tahu. Sebelum kami terima surat pindah, beliau mengarahkan supaya kami kembali ke kepala sekolah untuk mohon kebijaksanaan supaya Yansen bisa sampai naik kelas, usul itu kami lakukan dan merendahkan diri bertemu kepsek ketiga kalinya.

Saat kami masuk kantor, sang kepsek menyapa , mau ambil surat pindah ya pak, bukan pak kami datang untuk minta kebijaksanaan, Bapak Tolong beri kesempatan Yansen sampai akhir semester ini, sebab di luar kami kesulitan mencari sekolah yang mau tampung karena waktunya tanggung sekali. Tetapi beliau tetap menolak, bahkan beliau berkilah kami sudah menolak anak anda, kenapa anda datang lagi memaksa kami menampungnya, kalau Yansen sampai memperkosa murid putri, apakah sebagai ortunya mau tanggung jawab? Pernyataan ini membuat kami tidak respek kepada seorang leader lembaga pendidik. Kami datang minta tolong tapi malah dibondrong. Ya mana mungkinlah, ini kan lembaga pendidikan, masak sih akan sampai terjadi perbuatan amoral seburuk ini, pikir positip dong bapak kan pendidik, kalau ada yang kurang ajar ya diajarkan, ini sanggahan kami, dan beliau menjawab semua hal harus kami antisipasi sebelum terjadi. Jadi begitu parahnya persepsi mereka kepada anak SN sehingga menutup pintu rapat-rapat, bahkan dianggap makluk liar, sangat ironis memang.

Sebenarnya kalau pengelola dan pemilik sekolah ini punya hati nurani sedikit saja, tidak akan ada masalah untuk menampung Yansen sampai tamat di sekolah tsb. Bayangkan saja SD 6 tahun, dan selama itu tidak ada hal yang mengkhawatirkan, masa sisa waktu yang tinggal sedikit saja gak bisa diupayakan way outnya. Sebenarnya Yansen itu tidak bikin heboh karena ketika kami tanya teman-temannya apa yang dilakukan Yansen mereka bingung, malah balik bertanya kenapa Yansen tidak sekolah lagi, bahkan wali kelasnyapun tidak tahu bahwa Yansen sudah dikeluarkan. Jadi ini adalah konpirasi para pengambil keputusan dengan hanya satu statement saja "MAAF Kami tidak bisa AKOMODIR" maka TAMMAAAAATLAH dan segala pengharapan berhenti disitu.


Bagian Ke Tiga

Karena pindah tempat yang baru, suasana baru mengundang perhatian Yansen untuk observasi hal baru yang ditemukan disana, sehingga kami harus menfokuskan perhatian dan waktu untuk kembali nongkrong di lingkungan sekolah full time mulai masuk sampai pulang sekolah pada awal awalnya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setelah kami anggap waktu adaptasi dengan suasana baru cukup, waktu mendamping mulai dikendorkan, hanya antar, istirahat dan pulang baru dijemput. Suatu hari kami terlambat jemput, sehingga Yansen risau dan lepas kendali, jadi Yansen nyelonong masuk ke rumah yang berseberangan dengan sekolah, karena sekolah letaknya di tengah pemukiman dan pagarnya rusak. HAL ini membuat heboh penduduk lingkungan sekitar sekolah karena khabarnya Yansen masuk beberapa rumah dan bahkan ada ibu-ibu sedang mandi pintunya tidak terkunci, dibuka Yansen dan sangat kaget dengan
kelakuan siswa yang berpakaian seragam SMP itu.

Keesokannya kami dipanggil kepsek yang baru seumur jagung menerima Yansen di sekolahnya, rupanya warga complain ada siswa baru yang tidak sopan masuk rumah tanpa permisi dan meresahkan masyarakat sekitar sekolah. Ibu Nanik kepsek SMP memang dekat dengan masyarakat disana, jadi merasa serba salah, mau keluarkan Yansen kasihan kemana lagi bisa nampung, mau teruskan beliau takut Yansen dipukul orang kalau mengulangi perbuatannya. Tetapi karena waktu untuk belajar efektif tinggal hitungan jari lagi karena banyak libur dsbnya, maka beliau minta Yansen bisa diliburkan dulu dan mengerjakan PR dirumah jadi tiap hari kami antar Yansen absen ambil tugas dan latihan dirumah, setelah mengikuti ulangan semester genap langsung liburan.

Karena Yansen sudah tidak ada beban pelajaran sekolah setelah ulangan semester selesai, maka atas rekomandasi terapisnya kami dipertemukan dengan seorang ahli Rehab Medik di RSCM. Beliau adalah ibu Luh Kurnia yang reputasinya tidak diragukan dibidangnya. Kabarnya beliau sangat tertarik bertemu Yansen karena penasaran mendengar cerita terapisnya. Bagaimana bisa terjadi??? Yansen anak Autis intelegensi sangat baik, bisa menerima perintah dan melaksanakan perintah dengan baik, tetapi kalau diajarin ETIKA bahkan berulang-ulang tidak bisa, selalu dilanggar dan dilanggar lagi. Menurut ibu Luh kalau seseorang bisa menangkap perintah dan melaksanakan perintah sesuai pengertian pemberi perintah maka anak itu pasti PINTAR, dan kalau orang pintar kalau dibilangin atau diajarin cepat nangkap dan bisa, kecuali bodoh, maka beliaupun penasaran,

Maka atas kesepakatan bersama kami membawa Yansen ketemu ibu Luh di klinik Rehab Medik RSCM. Setelah menerima data Yansen, sambil mengamati tingkap lakunya dan berinteraksi dengan Yansen, kemudian mengajak masuk kantornya . Lalu mulai memberi perintah kepada Yansen untuk menggambar sesuatu dengan perintah lisan "Yansen dokter Luh minta gambar di kertas ini, ada rumah tingkat, ada pohon kelapa di halamannya, ada 2 orang di teras rumah cowok dan cewek dengan latar cakrawala langit cerah dihiasi awan tipis kelihatan ada burung-burung sedang terbang. Ternyata perintah itu bisa dilakukan dengan baik oleh Yansen tidak lebih dari 15 menit , dan setelah ibu Luh melihat hasilnya beliau berkomentar sangat bagus, anak ini memang pinter, tapi beliau HERAN mendengar cerita kalau diajarin ETIKA gak nyangkut-nyangkut, contohnya yang soal masuk rumah orang tanpa permisi main nyelonong, sampai capek kami ajarin, kami ingatkan terus tetapi kenapa dilakukan lagi, diulangi lagi. Nah inilah masalah Yansen dan pergumulan kami.

Menurut pengamatan ibu Luh, Yansen masih ada masalah di sensori, maka kami diminta konsisten melatih fisiknya, maksudnya terapi SI. Karena Yansen tubuhnya tinggi besar, usianya menjelang 14 tahun maka terapi SI yang tersedia di klinik terapi, alat peraganya tidak memadai lagi. Kami dianjurkan banyak outbound, trompolin, flying, manjat tali, skiping, berjalan di berbagai medan, di atas lumpur, pasir, berbatu-batu, di atas rumput dengan kaki telanjang, hiking, petualangan di berbagi medan, lari di lapangan bola, berenang, naik sepeda dll.

Maka dimulai kembali fase baru penanganan Yansen, lewat perantara terapisnya yang melaporkan perkembangan Yansen dan menerima arahan dr Luh melalui seseorang asistennya (dr Mariana) yang juga dinas di RS Har Kit dimana pak Marno therapist Yansen bertugas sehari-harinya. Yansen mulai les renang 2 x seminggu, skiping tiap pagi, sit up diantara dua tiang, bersepeda, jalan jalan di taman, dengan tumit, jinjit, di padang rumput, di lap becek, berlumpur, diatas jalan bebatuan krikil, di pantai pasir, manjat pohon dan tiap minggu ketempat advanture manjat tali, flying fox, menyebrang titian tambang antara dua pohon ketinggian 5-6 m.

Untuk melatih pengendalian emosinya yang sering meluap-luap kami juga melakukan terapi ikan lele. Karena kami bisnis rumah makan jadi tiap pagi beli lele hidup, dan sebelum dipotong Yansen diterapi dulu memindahkan ikan ikan lele itu dari satu ember ke ember yang lain, rupanya permainan ini melibatkan seluruh emosinya, karena lele itu licin tetapi dia harus berusaha menangkapnya dengan satu tangan pasti lolos, dengan kedua tangannyapun tidak gampang untuk menaklukan jenis ikan ini, maka dia musti sabar, kalau lolos harus berusaha kembali. Sering dia mau marah, tetapi kalau dia tidak selesai dia tidak akan diterima sekolah manapun, sebab kami sejak awal dia dikeluarkan sekolah sudah menerapkan patokan ini "Kalau Yansen mau sekolah harus berubah, dan semua latihan ini untuk proses perubahan yang lebih baik" Kami beruntung Yansen sadar dan dia takut tidak bisa sekolah lagi, oleh karena itu dia mau melakukan apa saja yang kami suruh lakukan. HASILnya cukup BAGUS, Yansen menjadi agak tenang, emosinya lebih stabil, pengendalian dirinya lebih mantap, konsentrasi lebih fokus.

Pada pertengahan Juni 2008, Yansen menerima Raport dan ternyata dia berhak naik ke kelas 3, tetapi saat itu juga kepsek dan dewan guru minta maaf karena mereka tidak bersedia menampung anak kami untuk melanjutkan kelas 3 dan kami diminta pindah cari sekolah lain, karena kebanyakan staf guru adalah wanita sehingga mereka khawatir tidak sanggup menangani Yansen, sekalipun kami sudah beri penjelasan sesungguhnya Yansen sudah lebih baik setelah ditangani dengan serius dan memberi jaminan akan menempatkan petugas yang menjaga Yansen full time pada jam sekolah, tetapi mereka tetap tidak bersedia. Alasan lain selain takut warga menolak, juga banyak ibu-ibu yang menjaga anaknya yang masih SD juga kawatir anak-anak mereka ketabrak Yansen yang postur tubuhnya gede dan seringkali meleng jalannya. Niat kami memang ingin Yansen bisa menamatkan SMPnya disana, tapi apa daya banyak faktor yang tidak mendukung. Sekalipun niat kami tidak kesampaian tetapi kami berterima kasih kepada pengurus SMP Yustia Puri yang telah menampung Yansen di tengah jalan kelas 2 dan membawanya sampai naik kelas 3. Kami juga sangat berterima kasih kepada pak Waluyo yang telah menjadi mediator yang sangat baik. Jasa dan niat baik bapak yang peduli akan pendidikan Yansen tidak pernah kami lupakan, Tuhan kiranya selalu memberkati.

Sekalipun Yansen naik kelas 3 dan tidak drop-out di tengah jalan, tetapi untuk meneruskan sisa setahun lagi dan harus pindah sekolah lagi, mungkin bagi anak anak biasa bukan persoalan yang rumit, tetapi untuk anak SN memerlukan perjuangan, karena di negeri ini masih sangat sedikit yang mau menampung anak SN di sekolah regular, apalagi untuk kelas 3 SMP. Kebanyakan sekolah yang khusus untuk anak SN atau sekolah inklusipun belum ada yang bisa mengakomodir anak kelas 3 SMP. Kalau untuk TK dan SD sudah banyak, bahkan sekolah seperti PATMOS di meruya hanya sampai kelas 2 SMP. Sekola KITTY di green gardenpun belum bisa akomodir. Kami pernah mencoba ke sekolah kesetaraan kejar paket B, setelah pengurusnya menguji akademik Yansen mereka menolak menampung Yansen dan disarankan terus di sekolah regular, dengan alasan “sayang pak, anak ini pintar, bukan kami ngak mau, tetapi sebagai pendidik yang sudah puluhan tahun mengajar kami melihat ada potensi yang lebih pada anak ini, jadi sangat sayang kalau dipaksakan mengikuti program ini, seharusnya anak bapak kembali
ke sekolah regular.” Kami sudah bertekad perjuangkan Yansen untuk tetap eksis di SMP regular sekalipun harus mengulang di kelas 2, kami tidak berkecil hati kalau ada sekolah yang mau akomodir Yansen itu sudah sangat menolong, selanjutnya tugas kami adalah memburu sekolah reguler yang bersedia menolong anak kami untuk bisa tetap bertahan dijalur REGULER.


Bagian Ke Empat

Setelah menerima raport semester genap dan memastikan Yansen naik kelas 3, berbekal surat pindah sekolah yang hanya setengah semester menampung Yansen, kamipun mulai memburu sekolah untuk lanjutkan pendidikan Yansen di kelas 3, tetapi kali ini benar-benar menempuh jalan yang berliku-liku, sebab dengan track record mutasi yang waktunya cuma 3 bulan ditampung oleh SMP Yustia Puri, lalu mau pindah lagi, menjadikan sebuah tanda tanya besar.

Pertama kami mendaftar di SMP Surya Bangsa, sebuah lembaga pendidikan baru tidak jauh dari rumah kami. Saat Yansen baru dikeluarkan dari sekolah beberapa bulan lalu, kami sudah bertemu Ketua Yayasan sekolah ini, namun karena mereka baru mulai, jadi SMP nya baru kelas 1. Karena Yansen kelas 2 maka di antara kami belum ada titik temu, tetapi kami janji mau kembali setelah kenaikan kelas untuk merundingkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi plus & minus anak , dan seandainya kami berhasil membujuk Yansen untuk tetap di kelas 2 tahun depan kemungkinan sekolah ini yang dipilih. Sebenarnya secara prinsip beliau sudah membuka hati untuk menampung, karena SD nya sudah ada anak Autis tiap kelas minimal satu anak SN, namum SMP belum. Saat mama Yansen berhasil mengkomunikasikan dengan anak kami untuk bersedia mengulang kelas 2, maka kami sepakat merelakan Yansen untuk mengulang di kelas 2 walaupun dia berhak naik kelas 3, ,karena tidak gampang cari sekolah umum yang mau terima anak autis apalagi pindahan berkali kali dalam waktu yang singkat.

Saat itu di SMP Surya Bangsa ini kelas dua hanya 15 orang, untuk kelas 3 belum ada, dengan kwantiti sejumlah itu sangat menguntungkan kalau seandainya Yansen bisa gabung, tetapi apa yang terjadi, waktu kami kembali merundingkan hal ini dengan team yang komplit, setelah mereka berunding dan rapat dengan kepsek dan dewan guru, akhirnya seminggu kemudian mereka menyatakan menolak kehadiran Yansen di kelas 2, karena mereka berasumsi Yansen pasti bermasalah karena sudah ditolak 2 sekolah, dan sekolah yang terakhir hanya menampung setengah semester. Pupuslah harapan kami.

Perjuangan kami mulai babak baru lagi, tiap hari saya membawa Yansen keluar rumah untuk mencari sekolah, dan sekaligus terapi sensori ke berbagai medan, kami ke DIK NAS Kab Tangerang untuk meminta rekomendasi pindah ke kota Tangerang dan ketika kami diberi surat rekomendasi, kami coba minta informasi apakah ada sekolah INKLUSI di Tangerang. Betapa kagetnya saya ketika pejabat DikNas yang menandatangai surat rekomendasi itupun tidak TAHU apa itu sekolah INKLUSI. Ya ampun, bagaimana mau care kepada anak SN, sedangkan pejabat Dik Nas saja tidak mengerti bahwa sudah ada program inklusi untuk menunjang pendidikan anak dengan kebutuhan khusus. Aneh ya tapi ini kenyataan.

Pemburuan kami lanjutkan ke SMP yang ada di sekitar kami dan saya selalu membawa serta Yansen, sebab saya tidak mau tutup-tutupi keadaan yang sebenarnya. Setiap bertemu pengurus, saya selalu katakan anak kami ini penyandang SN, secara akademik dia bisa mengikuti, tetapi memang masih ada kendala di tingkah lakunya dan apakah bapak atau ibu bersedia menolong supaya pendidikan anak ini berlanjut. Responnya kebanyakan sekolah langsung memasang PERISAI, walaupun nilai Yansen bagus, tetapi banyak di antaranya menolak dengan dalih tidak ada tempat, tidak terima kelas 3 pindahan, tetapi ada juga yang jujur kami khawatir tidak bisa menangani karena tidak tersedia tenaga pendidik yang siap untuk take care. Ada juga beberapa pengurus yang ber EMPATI, sehingga kami dipertemukan dengan pengurus Yayasan dan hasilnya mereka selalu memberi harapan mau dirapat intern dulu, saya tidak tahu ini hanya basa basi atau tidak tapi setelah kami konfirmasi hasilnya selalu mendapat jawaban maaf pak, kami belum bisa bantu.

Sampai di titik inilah, harapan Yansen untuk terus eksis di SMP regular hampir kandas. Rupanya track record Yansen yang tertera dibuku raportnya menjadi BUMERANG untuk bisa diterima oleh sekolah manapun. Bagaimana tidak, seorang siswa telah 2 kali pindah di kota yang sama dan waktu mutasinyapun ditengah jalan yang tidak lazim bagi seorang siswa yang tidak bermasalah, ditambah sekolah yang ditujupun hanya setengah semester saja, kemudian pindah lagi. Apalagi masuk kelas 3 yang notabene akan tinggal landas, kelas yang seharusnya tidak boleh banyak masalah lagi, tetapi kelas yang focus nya lulus UN dan harus setril masalah. Kebanyakan sekolah sudah pasang tameng untuk menghindari resiko dan mempertahankan reputasi, dan yang kami terima adalah penolakan demi penolakan dengan bermacam dalih.

Sangat disayangkan apabila Yansen harus drop out ditengah jalan, bukan karena masalah akademik, tetapi karena masalah tingkah laku. Kami seharusnya realistis, diakomodir atau tidak Yansen oleh sekolah, sangat tergantung kebijaksanaan pengelola sekolah yang dituju. Karena kami bertekad mengusahakan Yansen tetap berada dijalur SMP reguler sampai tamat, jadi kami harus memperjuangkan habis habisan.


Bagian ke Lima

Kami sadar sepenuhnya, untuk bisa menembus birokrasi penerimaan murid secara umum bagi Yansen hampir mustahil. Faktanya sudah belasan sekolah yang kami kunjungi semua menolak, sekalipun ada beberapa sekolah yang agak elite, dimana kami bersedia Yansen mengulang di kelas dua, mereka tetap menolak. Jadi kami berusaha mencari bantuan orang yang punya kolega atau punya hubungan baik dengan pemilik Yayasan. Ada 2 orang teman yang kami minta bantuannya, karena beliau beliau ini punya hubungan dekat dengan pemilik yayasan pendidikan walaupun sekolahnya agak jauh, tetapi kalau bersedia menerima, tidak apalah, kan masih dikota yang sama.

Pertama, atas bantuan pak Yohanes, seorang pendeta yang punya hubungan baik dengan pemilik yayasan Mawar Saron, mereka sama-sama gembala sidang GPDI. Ketika beliau mendengan cerita Yansen, kemudian kami dipertemukan, dan mendapat respon yang baik dari ketua Yayasan tsb, tetapi setelah kami diajak menemui KepSek SMP, kelihatannya beliau keberatan. Beliau berdalih untuk meeting dengan dewan guru dulu, beberapa hari kemudian kami minta pak Yo konfirmasi dan akhirnya team pengelola memutuskan tidak bersedia menerima. Apa daya, Bos- nya sudah ok tapi sang Kepsek ogah dan berdalih kalau menampung Yansen hanya memindahkan masalah saja.

Kedua, atas prakarsa pak Jeffry teman kami seorang pengajar senior di Yayasan Perguruan Markus, beliau mempertemukan kami dengan team penerima murid, kemudian kepala sekolah. Setelah berbincang-bincang ternyata mereka semua berempati, walaupun tahu ada kendala tapi mereka mau kasih kesempatan kepada anak kami untuk menyelesaikan SMP di perguruan tersebut, tetapi untuk mendapatkan dukungan penuh kami diminta menbicarakan dengan ketua Yayasan yang juga tinggal di komplek sekolah. Karena Yansen kan suka masuk-masuk ke semua ruangan, maka agar keberadaan Yansen di sekolah ini aman, sang kepsek pak Tampubolon memberi jaminan kalau kami bisa dapat restu ibu Purba ketua yayasan Markus, maka anak kami akan diTERIMA. Kamipun antusias mendapat angin segar.

Karena ibu Purba keluar kota, kami bisa menemui seminggu kemudian. Dalam setiap pertemuan selalu saya bawa serta Yansen. Begitu juga sewaktu pertemuan dengan ibu ini. Rupanya ibu yang satu ini tertarik dengan tantangan ini, kami sudah dapat informasi dari pak Jeffrey selain berkelut di jalur pendidikan, beliau juga aktif melayani kegiatan rohani di gerejanya, jadi ketika berinteraksi dengan Yansen lebih dominan pendekatan rohani. Dengan naluri keibuannya, mulailah bertanya kepada Yansen, apakah ikut sekolah minggu? Yansen langsung respon "ya dong tante Purba". Lho kok dia tahu nama ibu, memang kami selalu kasih tahu mau ketemu siapa dan untuk apa. Oh gitu baguslah nak, apakah Yansen bisa nyanyi? Bisa tante , ok kalau gitu tante mau dengar, maka menyanyilah Yansen lagu "HADIRANMU MEMBAWA KESEMBUHAN". Setelah selesai menyanyi, kemudian dilanjutkan pertanyaan berikutnya. Apa Yansen bisa berdoa? Ya bisa dong tante. Ayo sekarang kamu berdoa, maka Yansen mulai berdoa :”Ya Tuhan, terima kasih Yansen bisa ketemu tante Purba, dan Yansen bisa sekolah lagi di perguruan Markus ini, Yansen mau belajar sungguh-sungguh dan bisa tamat SMP di sekolah ini, dalam nama Tuhan Yesus, amin.” Selesai Yansen berdoa, ibu Purba kelihatan sangat tersentuh hati, dan tidak tahan karena terharu, lalu berkata, pak kalau saja saya sendiri yang mengajar Yansen, saat ini sudah saya terima, tapi karena yang menghadapi adalah team pengajar, maka nanti saya akan berusaha meyakinkan team SMP untuk menampung Yansen, karena yang beginilah yang harus kami tolong.

Saat bertemu adalah hari senin, beliau berjanji akan memberitahu kami untuk datang lagi mengurus administrasinya setelah pembagian tugas guru jumat yad. Senin depan (tgl 18 July 08) KBM sudah memasuki tahun ajaran baru. Kami sangat yakin senin depan pas KBM dimulai Yansen dapat masuk sekolah kembali. Ketika hari jumat berlalu ternyata ibu Purba tidak menghubungi, kami mulai was-was dan menanyakan kepada pak Jef, beliau sarankan kami hadir saja pada hari Senin, ibu Purba pasti hadir karena ada upacara pembukaan tahun ajaran baru.

Tanpa ada kepastian saya bawa Yansen ke sekolah Markus senin pagi dan menunggu di kantor karena upacara belum selesai. Jam 10 ibu Purba masuk ke kantor dan hanya bersalaman, kemudian berkata sebentar ya pak, dan keluar meninggalkan kami yang sudah menunggu 2 jam ketika upacara berlangsung. Jam 11 asisten ibu memanggil kami untuk masuk ke kantor yayasan. Rupanya beliau baru selesai bertemu kepsek SMP selama 1 jam dan ketika duduk saya coba cari tahu khabar baik kan bu Purba? Ya, jawabnya tadi barusan saya berbicara dengan kep sekolah, dan saya sudah jelaskan kasus seperti Yansen harusnya ditolong, kemudian beliau bertanya kalau Yansen di kelas sebaiknya duduk di mana. Sebaiknya didepan supaya lebih konsentrasi, saya memberi saran, kemudian beliau bertanya kepada Yansen, nak kamu sungguh-sungguh mau sekolah disini? Ya jawab Yansen, kemudian ibu berkata saya sudah tidak ada masalah, tetapi coba kalian bertemu kepala sekolah sekarang. Setelah ok kembali kepada saya untuk membicarakan administrasinya.

Lalu saya ingatkan bukankah kepsek sudah ok karena sudah mendapat restu ibu Purba. Tetapi saya sangat terkejut ketika ibu Purba bilang kepsek nya ganti yang baru sekarang pak Rayhan. Weleh-weleh tadinya kami pikir semua sudah ok tapi kini kembali mentah. Ketika kami masuk ruang kep sek, berkenalan dan saya harus mulai dari awal menjelaskan masalah kenapa Yansen pindah sekolah dan alasan dua kali pindah dalam waktu singkat. Karena beliau orang baru di SMP itu sehingga minta didampingi wakil kepsek, pak Reyhan sebenarnya mau terima Yansen tetapi wakilnya yang lebih dominan menolak. Dan beliau berkata anak bapak seharusnya sekolah di SLB, jangan di SMP regular nanti merepotkan kami. Waduh bapak yang satu ini benar benar tidak mengerti perjuangan kami, walau kesal kami berusaha tenang dan menjelaskan, Pak anak ini anak pintar bukan idiot, IQnya diatas 100 kalau mau ke SLB tidak cocok dia bias stress, karena pimpinan yayasan ini sudah buka hati mau tolong anak ini, jadi sekarang kami datang kepada bapak-bapak untuk minta tolong agar pendidikan anak kami jangan kandas. Kami sudah minta restu kepada pimpinan yayasan dan beliau sudah membuka hati mengulurkan tangan, apakah bapak-bapak ini sepakat dengan peminpin anda? Pak Reyhan sadar dan menjawab seharusnya kalau pemimpin kami sudah setuju kami tinggal melaksanakan tapi berhubung di team kami belum ada kata sepakat, biar kami matangkan dulu dengan dewan guru dan menyerahkan hasilnya kepada ketua yayasan untuk dipertimbangkan kembali. Kami kembali kepada ibu Purba dan beliau kasih no hpnya supaya menghubungi dua hari lagi.

Pada waktu yang dijanjikan dengan perasaan was-was saya menghubungi ibu Purba dan ternyata jawabannya, maaf pak saya benar-benar tidak enak sama bapak tidak bisa merealisasi keinginan bapak dan harus mengecewakan Yansen. Maaf sekali lagi ya pak. Dengan perasaan tidak karuan saya jawab, ya bu kalau tidak bisa kami tidak akan paksakan kehendak, terima kasih atas harapan yang ibu berikan selama ini, apa boleh buat, padahal kami sudah optimis ternyata gagal lagi walaupun KBM sudah mulai.

Penolakan demi penolakan kami terima selama ini, ternyata Tuhan ijinkan untuk terapi pertumbuhan jiwani bagi Yansen. Tanpa kami sadar rupanya bersamaan kami memberikan terapi fisik (SI) dibarengi kematangan jiwanya. Tadinya Yansen sangat rentan terhadap penolakan, apa yang dia mau harus terwujud dan tidak bias ditawar dan ditukar apapun, contohnya kalau dia kehilangan tangkai pengaduk blender, dia akan mengamuk kalau tidak berhasil ditemukan, sekalipun kami membelikan barang yang sama untuk menggantikannya dia ngak mau, pokoknya segala yang dia mau tidak bisa ditolak, hal ini sempat membuat kami bingung bagaimana kalau suatu saat Yansen naksir cewek, lalu ditolak, waduh gak kebayang bagaimana solusinya. Dalam dirinya belum ada konsep penolakan, tapi sejak dia dikeluarkan dari sekolah Yansen mulai bisa terima penolakan, karena setiap penolakan kami kasih pengertian, Sen sekolah ini menolak Yansen karena kelakuan Yansen masih jelek, tidak bisa tenang, suka jalan-jalan, suka mengamuk dsbnya, rupanya dia mulai mengerti konsep DITERIMA dan DITOLAK.

Dan ketika kami beritahu Yayasan Markuspun MENOLAK, dia tidak ngamuk lagi, jadi kami bilang bagaimana Sen tidak bisa sekolah nih, teman teman kamu sudah masuk 3 hari tapi kamu belum. Yansen harus sekolah ya responnya “ayo cari sekolah lain pa", malah dia memberikan semangat. Bisa bayangkan dalam keadaan kami hampir putus asa karena ternyata sudah 20 (dua puluh) SMP yang menolak Yansen, tetapi anak kami masih ngotot dicarikan sekolah. Saat itu kami ingat ada sekolah dekat rumah pernah kami daftar tanpa Yansen ikut, mereka menolak karena gak ada kursi lagi, dan kami ingat mereka berkata coba ke SMP lain dulu, kalau belum dapat kesini lagi. Kami dapat informasi tentang sekolah itu sebenarnya bias memberikan kelonggaran dan tidak selektif menerima murid kalau orang tua bersedia kerjasama dan ada pengertian atas jerih lelah pengurusnya, dijamin semua lancar

Kami segera bergerak bertemu kepsek dan pengurus lainnya, kali ini kami bawa Yansen supaya mereka bertemu fisik, kondisi sekolahnya sudah bangunan tua, ditengah perkampungan kumuh dipinggir komplek perumahan kami. Secara naluri sebenarnya sangat tidak cocok, jadi walaupun dekat tidak pernah dilirik, dan kalau ada pilihan lain sebenarnya tidak masuk hitungan. Ketika sampai di lingkungan sekolah, saya bertanya kepada anak kami, Sen mau gak sekolah disini? Kami bisa menangkap Yansen gak suka, tapi karena dia ingin sekolah, bolehlah pa coba kita daftar,. Ya ampun saya terharu melihat anak kami, yang tadinya punya standard tinggi, maunya masuk sekolah yang sabtu libur, pakai AC di kelas, WC yang bersih sebab dia jijik WC jorok, ternyata bisa menyesuaikan kondisi, tidak lagi ngotot bertahan pada apa yang dia inginkan. Ini benar benar kemajuan, Tuhan ijinkan masalah tapi semuanya demi kebaikan anak kami, yang notabene titipan Allah. Rupanya mereka masih ingat kalau kami pernah datang." Pak mau gak tolong anak kami", sebab sampai saat ini belum dapat sekolah sementara KBM sudah mulai 3 hari. Kami pilih sekolah ini karena paling dekat rumah, kalau ada masalah bisa cepat hadir, kalau tidak ditolong anak ini harus drop out, padahal kan pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 tahun, kami mohon tolong dibantu dan kami bersedia kerja sama. Kami memang berusaha tidak mendikte, tetapi kalau kami minta tolong, setidaknya mereka mengerti kami bersedia membayar kalau diminta biaya tambahan, karena memang tugasnya lebih berat.

Rupanya informasi yang kami terima tidak benar, mereka tidak antusias membicarakan biaya administrasi. Tanpa menyinggung soal biaya mereka mensyaratkan kami membawa surat mutasi dari Diknas, sebab kata pengurus sekolah tsb, mutasi siswa tidak boleh secara local saja tetapi secara nasional online dan setiap siswa harus punya NISN = no induk siswa nasional. Rupanya cara lama tidak berlaku lagi, waktu Yansen pindah dari MUKAS ke YUSPUR , kedua sekolah itu berpegang aturan lama kalau pindah sekolah dalam satu kabupaten tidak perlu mutasi ke diknas karena satu rayon, waktu kami kembali ke Diknas mau ngurus mutasi banyak pegawai tidak ngerti malah mengarahkan ke aula minta surat rekomendasi. Kami sudah mengantongi rekomendasi, tapi sekolah yang dituju minta kode validasi mutasi siswa nasional, rupanya sistim IT yang sudah canggih memuat data siswa se Indonesia online di setiap kantor diknas, mengalami kerusakan di server pusatnya, jadi hang tidak bisa mengelola data apalagi mutasi. 5 hari kami datang berturut turut, ternyata jaringan tidak bisa on dan kami diberikan surat pernyataan yang menerangkan system perangkat computer mengalami kerusakan, karena bebannya berat 40 juta data murid dan karena banyak yang mutasi selama liburan sekolah, jadi pas 3 hari
masuk sekolah rusak, dan perbaikannya sampai 20 Agustus.

Dengan membawa surat pernyataan yang ditandatangani pejabat diknas yang berkompeten, kami kembali menemui pengurus SMP tsb, rupanya mereka tidak mau kalau belum ada surat mutasi dan kode validasinya, padahal menurut petugas diknas sekolah yang jauh lebih elite saja terima, mutasi bisa menyusul. Kalau sampai 20 agustus berarti sebulan lebih Yansen ketinggalan, kamipun pasrah karena kayaknya semua jalan tertutup.

Pulang ke rumah saya sharing dengan istri, kayaknya ini semua tangan TUHAN, sudah pokoknya sekarang kita berserah saja, Yansen bisa sekolah atau tidak semua seijin Tuhan, sebab semua jalan sudah kami tempuh, jalur umum tidak berhasil, pakai koneksi gagal, mau pakai uangpun tidak direspon. Mulai sekarang kita harus tingkatkan IMAN kita, jangan berharap pertolongan manusia, jangan mengandalkan UANG baiklah kita fokus kepada Tuhan. Mulailah kami berdoa, berdoa dan berdoa, kami serahkan pendidikan Yansen dalam tangan Tuhan. Kami tidak mau mengemis minta belas kasihan manusia supaya menerima Yansen. Dalam benak kami terpikir kecuali punya yayasan sendiri kalau Yansen bisa diterima dan melanjutkan sekolah di SMP reguler adalah sebuah mukjizat.

Ternyata doa kami dijawab, saat persekutuan doa kami menyaksikan iman kami ditengah jemaat. Selesai acara, ada guru agama Kristen yang ngajar di berbagai sekolah, pak kenapa ngak coba SMP VOCTECH. Pak Jusuf memberi informasi bahwa beliau mengajar di SMK Voctech, dan ada SMPnya tapi sekolah sore. Kami sebenarnya tidak tertarik sekolah sore, tapi bolehlah asal Yansen bisa tamat, toh cuma setahun. Saat itu jumat malam, berarti sudah 5 hari KBM ajaran baru dimulai. Pak Jusuf berjanji besok Sabtu sore mau pertemukan kami dengan kepsek SMP yang dimaksud.

Waktu yang dijanjikan, kami ketemu wakil duluan, saat ditanya kenapa pindah, saya tidak cerita masalah Yansen lagi tapi saya bilang anak kami aktif, dan di sekolah yang lama campur anak TK & SD + SMP, jadi sering tertabrak olehnya, makanya kami mau pindah cari sekolah yang tidak campur TK & SD. Karena sekolah ini hanya ada SMP & SMK maka kami rasa lebih cocok bagi anak kami berinteraksi dengan teman teman sebayanya. Rupanya pak Sri Jananto sang wakil ini sudah tidak asing dengan anak SN karena waktu ngajar di cengkareng ada anak model begitu di kelasnya tapi masih SD. Saat beliau berinteraksi dengan Yansen, dia berkomentar keadaan Yansen jauh lebih baik. Kemudian pak Didin kepsek SMP masuk ruangan dan bergabung. Saya mempersilahkan mereka berkomunikasi dengan Yansen, sekaligus menjelaskan cara penanganan yang efektif, ternyata mereka tertarik karena ada kelebihan pada diri anak kami, yang tidak bisa dilakukan anak anak lainnya terutama konsep waktu Yansen sangat akurat. Kesepakatan belum ada tapi sinyal-sinyal bisa diterima sudah kami tangkap, mereka menjanjikan akan mensosialisasikan dulu kepada guru-guru dan murid-murid yang kelasnya akan Yansen bergabung juga minta restu ketua yayasan karena selain SMP ada SMK.

Walaupun belum diputuskan, saya langsung menpersiapkan pakaian seragam untuk anak kami dengan membeli kain biru SMP dan ke tukang jahit, ngak tahu kenapa saya sangat yakin Yansen akan terus sekolah lagi, padahal kami sudah putuskan tidak akan cari sekolah lagi kalau SMP yang ke 21 tidak terima Yansen. Kayaknya kekuatan kami cuma sisa segitu dan kalau lebih dari itu tidak kuat. Rupanya Tuhan maha tahu kekuatan kami sampai batas ini, Rabu minggu berikutnya saya mendapat telepon dari sekolah VOCTRCH, pak Sri Jananto di seberang sana memberitahukan mereka bersedia menerima Yansen dan kami diminta segera bisa menyelesaikan administrasi, membeli atribut, topi, dll. Kamipun menyelesaikan semua berikut pembelian buku buku pelajara. Satu hal yang luar biasa, dimana kami mengharapkan Yansen diterima dengan jaminan tidak lagi dikeluarkan sampai tamat, ternyata apa yang kami rindukan sudah direspon, bahkan mereka berjanji mempertahankan Yansen sampai tamat, apapun keadaannya akan dicarikan solusinya, bahkan semua yang berurusan dengan dinas pedidikan termasuk mutasi dan validasi akan mereka tangani. Sungguh semua ini jawaban Tuhan, selama ini tidak pernah ada sekolah yang menelpon kami, selalu kami mengejar apa yang menjadi putusan management sekolah. Tadinya kami tidak mau sekolah sore tetapi rupanya ini yang terbaik sebab Yansen bisa terus latihan fisik pada paginya sebelum sekolah, sehingga saat sekolah dalam keadaan kondusif.

Setelah 40 hari memburu sekolah barulah ketemu tempatnya, ternyata Tuhan ijinkan 20 kali penolakan untuk proses kematangan jiwa Yansen. Pada saat kami hampir putus asa Tuhan berikan sekolah, saat kami maju melangkah ke 21, inilah klimaks usaha kami yang sudah maksimal, dan semua adalah proses yang harus dilewati, tapi maksud Tuhan semua demi kebaikan. Sejak Yansen dikeluarkan sekolah saya konsentrasi sepenuh waktu dan sepenuh hati, meninggalkan semua pekerjaan hanya fokus pada perkembangan Yansen, jadi genap 4 bulan penuh perjuangan kami untuk mempertahankan jalur pendidikan Yansen tetap eksis di SMP regular. Kami bisa merasakan bagaimana sukacitanya anak kami, saat masuk sekolah kembali, sekalipun teman-temannya sudah 10 hari mulai tahun ajaran baru, ada semangat untuk mengejar ketinggalan, dan kami berusaha menemanimya selama 2 minggu full diijinkan masuk lingkungan sekolah sampai masa adaptasi dengan lingkungan baru berhasil dilewati tanpa gejolak yang merisaukan semua pihak.

Ternyata apa yang dikwatirkan para pengelola sekolah sehingga menolak kehadiran Yansen tidak terjadi lagi, bahkan Yansen sudah tidak pernah keluar kelas saat pelajaran berlangsung, kecuali ada pelajaran yang tidak wajib dia ikuti seperti PAI, gurunya memberikan kebebasan, mau ikut nimbrung boleh, mau keluar kelas silakan dan biasanya Yansen masuk perpustakaan supaya tidak menggangu suasana kelas lain kalau dia berkeliaran di koridor. Rupanya teman teman sekolah yang baru ini bisa menerima kehadiran Yansen dan karena sebelumnya sudah disosialisasikan oleh pengurus sekolah maka tidak ada yang jahil. Guru-gurupun tidak masalah menangani anak kami karena waktu berkenalan dan sosialisasi mereka kami beri tip supaya mengadakan deal politik "Kalau Yansen mau ikut pelajaran harus deal dulu tidak boleh keluar kelas" kalau melanggar terima resiko dipulangkan. Rupanya ini jitu semua guru sudah deal dan hasilnya keadaan kelas tetap kondusif dan Yansen bisa jadi murid yang aktif mengikuti semua pelajaran tanpa dispensasi lagi. Kami bersyukur apa yang terjadi pada Yansen ternyata semuanya seijin Yang Maha Kuasa demi kebaikan dimana penolakan yang Yansen terima berdampak baik sehingga dia mulai bisa menerima konsep DITERIMA atau DITOLAK dan tidak bisa paksakan apa yang dia inginkan kalau pihak lain tidak terima. Terima kasih kepada seluruh siswa, pengurus dan pemilik yayasan V W K, Tuhan kiranya senantiasa memberkati perguruan ini.


Bagian ke Enam

Kami mengucap syukur Yansen akhirnya bisa melanjutkan kelas 3 SMP tetap di jalur regular. Karena sekolahnya sore, maka paginya dia terus konsisten latihan fisik rutinya skiping 600 x tiap pagi, renang 2x seminggu durasi 1 jam, menjelajah outbond tiap minggu sekali, kemudian ikut BIMBEL 3 x seminggu, jadi jadwalnya full. Sabtupun masuk sekolah, dan Minggu masih terapi tingkah laku, setelah pulang gereja dan ikut bimbingan rohani bersama team Pengharapan Dalam Kasih, untuk dibaptis selama bulan Agustus 2008. Rupanya setelah ditolak dimana-mana membuat rohaninyapun bertumbuh. Kami senantiasa membimbingnya untuk fokus dan berharap kepada Tuhan, dan responnya sangat baik. Dalam hal apapun dia mau berdoa minta pertolongan Tuhan, bahkan setiap pendeta yang turun dari mimbar, Yansen pasti menghampirinya dan minta didoakan tanpa kami intervensi, ketika hamba Tuhan itu menanyakan masalah yang mau didoakan, Yansen menjawab supaya tidak AUTIS. Rupanya dia tidak menghendaki title autis terus menempel pada dirinya.

Pada waktu Yansen mengalami masalah di kelas 4 SD, mamanya melepaskan pekerjaan dan mendampingi Yansen sehingga lulus dan masuk SMP, tetapi saat anak kami mengalami masalah sejak SMP kelas 2, gantian sebagai ayahnya, saya harus melepaskan semua pekerjaan dan setiap hari hanya menjadi pendamping Yansen full time sampai tamat. Menjadi mentor semua kegiatan Yansen. Niatnya sih mau rekrut mentor yang bisa mendampingi Yansen setiap hari, tetapi kalau amatiran kita gak percaya hasil kerjanya, kalau professional belum tercover. Ini dilema, tetapi amanah, kami berusaha menjalankannya

Pada bulan Oktober 2008, kami bawa Yansen ketemu dr. MELLY untuk pertama kalinya, dan beliau komentar sebenarnya kondisi Yansen bisa lebih baik dan lebih tenang seandainya dari dulu diberikan vitamin T & K ala bu Ita. Setelah konsultasi mengenai penanganan Yansen dan melihat hasilnya masih kurang maksimal, dr Melly bilang kebanyakan anak autis tercemar logam berat salah satunya mercury. Oleh karena itu saran beliau hindari makan ikan laut dan coba diet ketat CFGF. Untuk membantu konsentrasi kami diberi suplemen GABA. Karena Yansen mulai mengerti, semua saran dokter adalah demi kebaikannya supaya dia terbebas dari autis, maka setelah bertemu dr Melly, dia bisa mutlak mengekang diri untuk tidak makan roti dan makanan yang tidak bebas cfgf. Dulu kalau suruh diet gak gampang, selalu cari celah untuk makan menu yang bukan untuk dia konsumsi, tapi sekarang kalaupun ada orang kasih biscuit, roti, cake, martabak, soft drink, snack dkk (non cfgf) pasti ditolak, dan berkata Yansen gak boleh makan ini. Kalau ditanya kenapa? Dia bilang nanti Yansen bisa aktif, bahkan ketika kami ajak naik
kendaraan umum banyak pedagang asongan menjajakan aneka softdrink, kami bingung Yansen haus mau minum apa, ternyata dia bilang air putih saja, pilihannya aqua. Wah salut juga, berarti Yansen ada kemauan untuk lebih baik, sehingga dia sendiri bisa konsisten menjalankan terapi apapun.

Kalau mendapat supplement yang disponsori tante-tantenya, dia sangat intensif mengatur jadwadnya, jadi hampir tidak pernah lupa kapan waktunya dia makan, bahkan kalau ada kegiatan diluar dia pasti bawa. Satu hal yang kami lihat Yansen mau berupaya terbebas dari belenggu Autis , sehingga apapun upaya yang menurut pakarnya membawa kesembuhan, dia lakukan, contohnya minum NONI sari mengkudu rasanya gak enak, tetapi karena diyakini bisa memperbaiki jaringan sel-sel otak yang rusak, dia mau minum, air pala juga sepet tapi dia berusaha menelannya. Kalau dulu dia berusaha sekuat tenaga menolak kalau ada makanan yang tidak cocok dengan tastenya, peka sekali.

Menurut pantauan kami dan informasi yang kami terima dari team pengajar dan pengurus SMP Voctech, kondisi Yansen cukup kondusif, sehingga tidak lagi diperlukan dispensasi khusus untuk mengikuti KBM secara umum. Setelah sebulan beradaptasi kami tidak perlu lagi mengawasi di lingkungan sekolah, tetapi hanya mengantar dan menjemputnya pulang sekolah. Kami juga membina hubungan baik dengan semua elemen di sekolah mulai satpam, tukang kebun, office boy, petugas lab, petugas perpustakaan, petugas koperasi, kantin bahkan pedagang makanan di luar pagar sekolah, utamanya dewan guru, kepsek dan staff adm tata usaha, sehingga semua memberi kontribusi dan informasi yang diperlukan. Saat sekolah pulang lebih awal dari jadwal, kami selalu ditelpon supaya tidak telat menjemput sehingga Yansen tidak berkeliaran di luar lingkungan sekolah. Pernah kami telat jemput setengah jam, Yansen sudah gak sabar tunggu, dan pulang jalan kaki, karena kami tidak bekali uang takut dia jajan sembarangan. Ya ampun dua jam baru sampai itupun sudah dicariin kemana-mana.

Ternyata sepanjang jalan tidak kurang 26 tempat dia mampir, kebanyakan toko-toko atau tempat usaha lainnya. Tentu saja membuat banyak orang terganggu karena tingkah lakunya. Belakangan kami baru mengerti makin dikekang dia makin berambisi untuk memenuhi keingintahuannya terhadap lingkungan dan objek baru. Semakin kami membendung niatnya semakin dia curi kesempatan keluar rumah, bahkan suatu hari saat kami lengah Yansen pernah lolos meninggalkan rumah naik sepeda keliling komplek perumahan yang mana jalan-jalan utamanya sudah menjadi tempat bermacam usaha. Untungnya satu jam sesudah dia berkelana ada kolega yang mengenal Yansen, menelpon kami apakah sudah tahu Yansen naik sepeda sendiri dan mampir mampir ke banyak tempat? Kami baru sadar bahwa Yansen telah meloloskan diri, karena selama ini kami selalu melarang dia untuk pergi keluar rumah sendirian. Setelah hampir dua jam merasakan kebebasan dan sampai dirumah kami introgasi, dia bilang mau ke rumah tantenya, tapi mampir-mampir dulu dan dia memberikan laporan sudah 28 tempat dia kunjungi. Bayangkan saja bagaimana respon mereka yang dikunjungi. Bagi yang gak kenal pasti diusir, dimarahi, untungnya banyak yang kenal sehingga mereka memberitahu bahwa Yansen ke tempat mereka, main nyelonong saja, ada yang sewot, tetapi ada juga yang empati.

Setelah itu kami menemukan report psikologi ternyata Yansen harus diberikan keleluasaan dan kepercayaan seluas luasnya. Kamipun mulai melepaskan tali kekang, supaya jiwanya tidak tertekan, karena kami terlalu proteksi, tidak berani memberikan kepercayaan lebih besar, takut gagal. Mulai masuk kelas 3 SMP, Yansen kami beri kepercaan lebih. Bayar uang SPP, uang ujian, uang kegiatan dll semua kami serahkan uangnya kepada Yansen untuk melakukan pembayaran sendiri di tata usaha sekolah. Kalau mau fotocopy, dia diijinkan pergi sendiri. Mulanya kami buntuti, takut dia melenceng, beli koran kami percayakan Yansen cari di perapatan (ada yang mangkal), isi pulsa hp, pesan air minum, gas, atau servise ac, dia kami kesempatan menghubungi pihak yang berkompeten. Demikian juga kalau mau beli obat, dia kami suruh, bahkan kalau dia mau bikin kue, mamanya suruh beli bahan sendiri di mini market. Walaupun agak was-was tetapi lama kelamaan sudah bisa dipercaya, bahkan kami mulai berani tinggalkan dia dalam jangka waktu beberapa jam dirumah sendiri. Ternyata semua berjalan baik, saat kami komunikasikan papa mama mau kemana, kamu dirumah belajar ya! Responnya okey, daaah mama, daaah papa. Wauuu…., dasyat, rupanya mulai mandiri.

Suatu hari mamanya mau melayat keluar kota karena ada kerabat yang meninggal, setelah kami komunikasikan, sen mama mau ke kota Anu menginap 2 malam, paling dia tanya mama kenapa keluar kota, kalau dikasi tahu alasannya dia bisa ngerti. Kalau ternyata waktu yang dijanjikan pulang harus meleset dan mundur, setelah kami kasih tahu alasannya, dia bisa terima dan tidak masalah lagi. Begitu juga kalau terima telepon responnya sudah baik, dia bisa menyampaikan kepada penelpon bahwa kami sedang melakukan kegiatan apa, seandainya kami tidak ditempat atau lagi sibuk. Dulunya dia cuek, angkat telepon lalu ditaruh lagi gagangnya tanpa memberikan respon apapun. Mulai pakai hp juga untuk belajar komunikasi dgn pihak lain

Masalah penolakan, Yansen sudah bisa atasi dengan baik, contohnya saat liburan Idul fitri kami liburan ke Bandung, karena musim liburan hotel-hotel penuh, hari pertama dapat hotel bintang, dia enjoy karena seleranya tinggi. Kebiasaan Yansen kalau pergi libur nginap di hotel yang bagus ada bahtub, kolam renang dll, tetapi besoknya harus pindah ke hotel melati yang mutu fasilitasnya turun. Setelah kami komunikasikan ternyata dia sudah bisa terima alasannya. Tadinya rencana nginap 3 malam, ternyata setelah itu berubah jadi 2 malam, dia juga sudah bisa terima. Dulu hal begini menjadi masalah, andaikata kami bisa membujuknya pulang sebelum waktunya, sampai di rumah dia uring uringan minta balik lagi, waduh benar benar repot waktu itu.

Kegiatan sekolah berjalan lancar, tidak pernah lagi ada masalah yang membuat geger, paling pernah ada insiden kecil yang bisa dimaklumi semua pihak. Sepanjang tahun Yansen aktif mengikuti semua jadwal yang ditentukan sekolahnya tanpa pernah absen. Kemauannya memang keras, waktu mengikuti ulangan atau ujian, dia berusaha menjawab semua pertanyaan. Seringkali setelah selesai ujian, kami tanya,"bagaimana sen hasilnya"? jawabnya sih sudah 100% tapi salahnya belum tahu berapa, lalu kami beri saran kalau ada soal yang ngak bisa jawab, sudah nyerah aja. Jangan sampai nyerah ya, katanya bertahan.


Bagian ke Tujuh

Saat semester genap sekolah dan murid murid kelas IX fokus pada hajad akhir tahun, yaitu menghadapi UAN. Kebetulan tahun 2009 ada Pemilu, sehingga jadwal UAN untuk SMP serentak akan diadakan 27-30 April 2009. Sejak masuk bulan januari sudah mulai latihan soal soal prediksi UAN dan mengulas soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Orang tua murid dikumpulkan untuk membicarakan agenda akhir tahun dan diminta perannya untuk mengawasi anak-anak secara intensif belajar mempersiapkan diri, sebab UAN sangat menentukan nasib para siswa, kalau sampai tidak lulus berarti harus ikut ujian kesetaraan kejar paket B. Sebelum UAN digelar, diadakan 2 kali try out (simulasi ujian) dan ternyata try out pertama Yansen tersandung pada mata pelajaran IPA, yang lain (math- bhs Ind- bhs Ing) lolos, jadi kami mengarahkan Yansen lebih telaten di IPA. Untuk try out kedua (se KODYA) nilai Yansen sudah mengcover nilai kelulusan. Kegiatan murid kelas IX pada bulan Maret-April dipenuhi jadwal ulangan mid semester, try out, ulangan semester genap dan pengayaan soal-soal prediksi UAN. Semua kegiatan extrakulikuler ditiadakan.

UAN telah menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa, para pendidik, orang tua murid, karena jerih payah belajar 3 tahun ditentukan hanya 4 hari UAN. Nilai kelulusan adalah rata-rata 5,5 dan tidak boleh ada salah satu yang dibawah 4, jadi walaupun ada 3 bidang study yang menonjol nilainya kalau salah satu dapat nilai dibawah 4, berarti tamat sekolah tapi tidak lulus, dan untuk melanjutkan ke jenjang SLA harus LULUS.

Untuk mempersiapkan Yansen menghadapi ujian akhir berstandar Nasional, kami memotivasi nya untuk lebih intensip latihan soal-soal ujian dari buku buku berbagai penerbit dan bank soal dari CD, bahkan dua minggu sebelum UAN digelar Yansen kami karantina (steril dari mainan,computer, TV, outdoor activity). Kegiatannya hanya fokus ujian, Bimbel dipadatkan tiap hari, selama dua minggu berturut-turut, kecuali minggu ke gereja dan terapi, waktu selebihnya digunakan untuk belajar dan latihan soal. Untuk menghindar kejenuhan, kami bawa Yansen belajar di taman yang sepi tiap hari 3 jam, untuk menyegarkan jiwanya, dan untuk kekuatan rohnya, diselingi doa, pujian dan penyembahan minta hikmat dan pertolongan Tuhan.

Pada saat UAN digelar, pagi-pagi Yansen sudah siap. Setelah berdoa saya mengantarnya menuju sekolah, selama ujian berlangsung, 2 jam saya berdoa untuk anak kami yang sedang berjuang menghadapi soal ujian. Saya menunggu di lingkungan sekolah sampai siswa-siswa selesai ujian, lalu membawa anak kami ke tempat BIMBEL lagi untuk mempersiapkan mata pelajaran yang diujikan keesokan harinya. Selama empat hari ujian saya menyertai dalam doa dan secara fisik hadir senantiasa di sampingnya untuk memberi support. Saya mengadopsi cara Nabi Musa saat Yosua berperang, beliau menopangnya dengan mengangkat tangan (maksudnya berdoa) selama peperangan berlangsung, maka peperanganpun dimenangkan Yosua. Dalam doa selama UAN berlangsung, sayapun berdoa bagi semua anak SN yang sedang mengikuti UAN di manapun mereka berdomisili, dan kami percaya anak-anak SN pun mengalami kemenangan dalam menghadapi UAN ini.
Setelah UAN selesai pekan depannya dilanjutakan UAS dan diakhiri ujian praktek pekan berikutnya, maka pada pertengahan Mei 2009 semua kegiatan belajar mengajar untuk siswa kelas IX SMP sudah berakhir, artinya siswa yang mengikuti seluruh kurikurum sudah TAMAT SMP , tinggal menunggu pengumuman resmi dari DIKNAS apakah LULUS atau TIDAK yang dijadwalkan akan diberitahukan melalui surat ke rumah masing masing siswa pada pertengahan Juni 2009, paling lambat tanggal 20 Juni 2009.

Untuk acara perpisahan dan pelepasan siswa kelas IX sudah direncanakan oleh sekolah pada awal tahun, dimana setiap ortu wajib mencicil biaya sejak dini, jadi semua siswa wajib mengikuti acara akhir tahun akademi ini tanpa beban yang terlalu berat, sebab menurut pengalaman panitia perpisahan siswa tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan ortu siswa keberatan saat diminta biayanya sekaligus.

Pada hari minggu tanggal 17 Mei 2009 rombongan siswa kelas IX dan guru SMP VOCTECH tempat anak kami mengakhiri SMP nya berangkat ke Puncak untuk acara perpisahan. Saya adalah satu-satunya orang tua yang menyertai perjalanan ini, karena sudah akrab dengan kepsek, para wakasek dan dewan guru jadi tidak canggung lagi hadir diantara mereka. Karena berangkatnya pagi, kami membawa makanan dan Yansen boleh menjadi saluran berkat dengan membagikan panganan ringan bagi penumpang siisi bus yang mengangkut teman teman dan guru. Suasana suka cita menyertai kami selama perjalanan, walau sedikit macet namun tidak sampai menghambat jadwal yang direncanakan. Pertama kami mampir dulu di taman matahari, untuk rekreasi sejenak dan setelah makan siang jam 14.00 kami melanjutkan perjalanan ke VILLA yang telah disediakan Panitia untuk istirahat sebelum acara puncak yang akan digelar mulai jam
20 hingga jam 00.

Setelah makan malam semua siswa dan dewan guru berkumpul di AULA. Acara dimulai dengan kata sambutan, diselingi dengan paduan suara, kemudian saat acara puncak pelepasan oleh kepala sekolah yang diwakili oleh dua orang siswa putra dan putri untuk dilepaskan atribut-atributnya. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi hening saat satu persatu siswa mendatangi gurunya untuk menyatakan terima kasih atas bimbingan mereka selama di SMP. Semua yang hadir larut dalam suasana haru, banyak yang menangis saat berpelukan, saling melepas kangen dan minta maaf atas segala kekhilafan yang pernah terjadi. Acara resmi selesai, dilanjutkan acara bebas, namun kami hanya foto foto bersama kepsek dan dewan guru dan kembali ke villa untuk istirahat. Besoknya dilanjutkan acara rekreasi ke Taman Cibodas, belanja oleh-oleh dan sorenya rombongan kembali ke Jakarta dengan membawa kenangan yang tidak pernah terlupakan, sebab inilah akhir acara berkumpul bersama, setelah itu masing-masing berpisah.

Setelah mengikuti acara perpisahan, keesokan harinya tgl 19 Mei 2009 Yansen tepat berumur 15 tahun. Acara ultah dirayakan sederhana intern keluarga saja. Perasaan saya senang bercampur sedih karena harus menerima kenyataan, bahwa anak kami memang anak special. Walaupun sudah remaja ternyata Yansen tidak bisa membangun hubungan dengan teman-temannya, bahkan boleh dikatakan dia ngak punya teman, bahkan saat teman teman dan gurunya larut dalam suasana yang haru, Yansen tidak bisa menyelami perasaan mereka. Saya perhatikan suasana haru saat pelepasan berlangsung tidak bisa diresponnya, bahkan ekpresinya biasa-biasa saja, ketika yang lainnya meneteskan air mata, suasana haru itu belum menyentuh hatinya. Ketika saya tanya apakah Yansen sedih berpisah dengan temannya, dia jawab sedih sih, tapi ekpresinya, emosionalnya biasa saja.

Jadi ada satu step yang belum terbangun yaitu bagaimana anak SN bisa mengekpresikan suasana hatinya dan membaca suasana hati orang sekitarnya lewat ekpresi yang ditampilkan orang lain, maupun sikon dimana dia berada. Kalau EMPATI sih sudah mulai tumbuh, saat ada temannya yang agak perhatian kepadanya, namanya Roby belum naik ke bus, Yansen bisa memperhatikan, dan dia tidak akan membiarkan Bus berangkat sebelum Roby naik. Saat hujan lebat dimana kami sudah lebih dulu mencapai Bus, Roby dan teman temannya belum naik dia bisa kwatir., sambil berkata aduuuh Roby dimana hujan besar sekali. Dia peduli karena waktu yang dijadwalkan sudah tiba tetapi karena hujan menghambat dan Yansen ngomong terus kepada panitia, jangan jalan dulu Roby belum naik. Sebenarnya kalau membaca suasana hati orang lain lewat ekpresi wajahnya sudah bisa, misalnya saat kami marah, dia bisa minta maaf , karena tahu kami marah karena tindakannya,. Dia tahu kalau kami sedang sedih atau lagi senang, tetapi yang Yansen belum bisa adalah mengelola perasaannya, bagaimana dia mengekpresikan suasana hatinya. Ini adalah satu hal yang tidak gampang, tapi kami percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan bagi orang yang percaya kepadaNYA. Doakan saja agar dia bisa mengaplikasikan dengan alami.

Setelah perpisahan Yansen menikmati liburan panjang (sekitar 2 bulan). Dia sudah membuat jadwal liburannya dan ditempelkan di pintu kamar tidur kami. Sesuai jadwalnya tiap minggu ada outbond, jadi masa liburan kami ke Taman matahari puncak saat acara perpisahan, minggu kedua ke tanah tingal, jombang Ciputat, minggu ketiga arung jeram cisarua, minggu keempat kaldera serpong, minggu ke lima Bogor, minggu keenam ke pulau seribu, minggu ketujuh ke outbond holic, Ancol tetapi jadwalnya diganti minggu ke lima. Wah ini yang paling ektrem, sebab disini Yansen ternyata berhasil lewat jalur hitam, naik menara hingga ketinggian 27 meter ( dua step rintangan dan meluncur flying fox yang berjarak 450 m dan diujung menara tujuan lewat dua rintangan lagi dan luncur lagi dari ketinggian 18 meter dan ternyata dia berhasil, dan instrukturnya berkomentar, mental Yansen sudah sangat ok, bahkan saat di menara dengan ketinggian 27 mtr (setera bangunan tingkat 8 ) Yansen tidak shock dan bisa menguasai situasi dengan baik. Kalau mau outbond kayaknya yang di Ancol ini terbaik, ada jalur merah dan hijau dengan ketinggian 6-10 m dan ada jalur khusus TK, SD rintangan 2-5 m. Pokoknya komplit untuk sarana terapi SI. Minggu ke 8 Yansen dan cici, serta mamanya dijadwalkan berlibur ke Palembang mengunjungi beberapa tantenya. Dia sendiri yang booking tiket online lewat internet, tetapi karena tiket yang dibooking sudah mahal, maka kami merefrensikan untuk berangkat pada minggu keenam, pertengahan Juni. Sedangkan agenda minggu kelima ( Bogor) dan keenam ( pulau seribu) dibatalkan dan diganti ke Jakarta fair. Ternyata Yansen bisa menerima jadwal liburannya dikoreksi. Berangkat ke Palembang Yansen merencanakan naik bus, sekaligus mengajarkan Yansen mengelola anggaran untuk efisiensi (belajar perbandingan mana lebih efisien). Yansen booking sendiri secara online.

Urusan memanfaatkan computer dia memang canggih. Lewat tangannya di atas tuts keyboard sudah banyak design layout rumah yang diselesaikan, semua detail dengan isi tiap ruang berikut perabot dan peralatan elektroniknya, materinya dikumpulkan dari belasan majalah atau tabloid interior yang menjadi langganannya. Ternyata Yansen bisa mewujudkan semua khayalannya menjadi karya yang bisa dibaca/gambar visual. Saat dia dikeluarkan dari sekolah, Yansen malah pernah membuat skenario sinema, berjumlah 300 episode dengan durasi tayang 1 jam tiap episode dan memerlukan waktu 1 tahun untuk menyaksikan seluruh ceritanya, yang dijadwalkan tayang senin sampai jumat tiap minggu diseluruh stasiun TV all around the word. Ide ceritanya diinspirasi dari game Chocolatier, seorang petualang yang berbinis choklat menjangkau seluruh bumi. Diapun memberi judul CITY ADVENTURE pada cerita berseri yang dibintangi Baumeister, Evangeline, dan jarah Tangye. Petualangan dimulai dari San Fransisco, kemudian Hongkong, Tokyo dan akhirnya mejelajah seluruh bumi. Sayang ceritanya kandas sampai episode 39 karena dia boleh sekolah lagi.

Pada awal tahun, dia bikin kalender 2009, dengan background mau minta seri apapun bisa. Terapisnya minta Yansen's series maka tampillah foto Yansen dalam berbagai pose, tantenya minta seri peralatan elektronik, maka tampillah Miyoko Elektronic apliances's series, di rumah dia bikin fishes series & aquarium's serie. Terakhir Yansen membuat kumpulan resep-resep yang dikumpulkan dari tayangan dapur sedap setiap Sabtu diasuh oleh Bara Pattiradjawana, Chorudin, kuliner Bondan dll, dan sering kali dia praktekan di dapur rumah kami, rasanya kadang lumayan bisa dikonsumsi, tapi kadang ngak karuan, tidak pas takarannya. Ya memang repot membereskan peralatan yang dipakainya tapi dia hobby, kamipun harus merespon kemauannya.

Banyak hal mampu dilakukan oleh anak kami dalam usianya yang sudah mencapai masa remaja, namun masih ada ganjalan bagaimana mencapai tingkah laku yang kondusif, agar sesuai dengan usianya yang semakin dewasa. Kami berserah apapun hasil akhirnya, yang penting kami sudah berusaha dan saya percaya segala jerih lelah kita tidak pernah sia sia, hanya Tuhan yang dapat menyempurnakan dengan karya agungNYA.

Setelah menunggu lebih dari satu bulan akhinya tepat pada tanggal 20 Juni 2009 kami menerima surat pemberitahuan resmi dari pihak sekolah dan ternyata Yansen dinyatakan LULUS ujian akhir SMP yang berstandard Nasional. Segala puji syukur hanya bagi Tuhan, yang telah menuntun kami langkah demi langkah, dimana perjuangan kami membuahkan hasil. Dengan pondasi ini Yansen boleh melangkah ke jenjang berikutnya, dimana anak kami telah lulus test, dan melalui proses pergumulan yang panjang lewat 7 (tujuh) tahap pertemuan, akhirnya tercapai kesepakatan dimana Yansen diterima masuk SMK jurusan Multi Media (normalnya Cuma 3 tahap yaitu mendaftar, test, wawancara, jika lulus boleh langsung registrasi).

Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung anak kami, khususnya pengelola, pegurus, dewan guru SMP VOCTECH Kota Tangerang yang telah memberikan kesempatan kepada Yansen untuk menyelesaikan pendidikannya di tingkat menengah pertama, kiranya Tuhan membalaskan semua amal kebaikan yang telah bersedia mengakomodir anak SN. Kami juga sangat menghargai kesediaan pihak pengelola SMK perguruan LEPISI, untuk mengakomodir anak kami melanjutkan jenjang pendidikan formal selanjutnya. Harapan kami Yansen juga bisa menyelesaikan bidang studi kejuruan di lembaga ini. Terima kasih atas doa-doa sesama komunitas keluarga Puterakembara, Tuhan memberkati.


Bagian ke Delapan

Kami bersyukur akhirnya Yansen bisa tetap survive menempuh jalur sekolah umum tingkat menengah pertama sampai TAMAT dan berhasil LULUS ujian.

Seandainya kami menoleh ke belakang, melihat kembali perjalanan yang telah dilewati, wah tak terbayang ternyata perjalanan ini sangat berat, jika harus mengulang, rasanya gak sanggup deh, tetapi kenyataannya kami sudah mengakhirinya. Kok bisa ya? sebenarnya kalau diukur kemampuan kami sangat terbatas baik itu data, dana, daya tidak ada yang bisa diandalkan, tetapi kami percaya semuanya berkat pertolonganNYA, sebab kuasa Allah yang telah memampukan kami melalui perjalanan ini. DIA senantiasa menyertai, menguatkan saat lemah, membuka jalan saat berhadapan dengan jalan buntu, mengangkat kami saat hampir karam, menghibur dikala sedih, membangkitkan semangat ketika hampir putus asa, pokoknya perjalanan ini berhasil karena kasih karunia Tuhan.

Sebagai orang tua yang dikaruniakan anak SN, kamipun punya beban yang sama dengan keluarga yang mendapat amanah khusus dari pencipta agung kita, namun satu hal yang perlu diketahui BEBAN ini menjadi berat atau ringan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau direspon dengan penyesalan dengan keluh kesah, menggerutu, menyalahkan pasangan, bahkan sampai komplain kepada Pencipta, bebannya pasti tambah, tetapi sebaliknya kalau kita merespon dengan menerima kehadirannya sebagai anugrah dan sekaligus amanah, bebannyapun menjadi ringan. Kuncinya disitu, kita tinggal pilih. Kami sudah diingatkan Tuhan, kehadiran Yansen adalah bagian hidup keluarga kami, jadi suka atau duka harus dilalui, semua itu proses yang Tuhan ijinkan, maka kami menjalani sesuai dengan kehendak Tuhan. Filosofinya sangat simple, kalau Tuhan titipkan anak SN dalam hidup kami, pasti DIA juga melengkapi dengan kemampuan. Tuhan adalah pemilik dan kami hanya dipilih sebagai pengelola, jadi pemilik pasti lebih peduli daripada pengelolanya.

Saat ini 15 tahun sudah berlalu, sekedar kilas balik perjalanan bersama seorang anak SN ditengah keluarga kami. Yansen lahir normal pada tgl 19-05-94 di RSAB Harapan Kita Jakarta, bayi berbobot 3,6 kg dan panjang 51 cm itu sehat dan langsung menangis saat keluar dari rahim ibunya. Karena kuning maka bayi itu harus tinggal di RSAB hingga seminggu, selanjutnya tumbuh menjadi bayi yang montok, gak pernah sakit, kalaupun ke dokter hanya untuk imunisasi saja. Pertumbuhannya normal, bisa tengkurap, duduk, merangkak, tumbuh gigi, berdiri, kemudian merayap pegangan tembok, berjalan, bisa ketawa, tersenyum, makan dan tidur teratur. Hanya saja sangat aktif, kalau belum cape belum mau tidur, terlambat berbicara, cuek, dipanggil tidak noleh, padahal kami bisa pastikan dia mendengar, buktinya kalau ada suara tertentu dia respon.

Selain belum bisa bicara, dia sangat suka dengan objek yang berputar seperti kipas angin, mobil mainan dibalikin diputer rodanya, dan dia cekikikan asik menikmati mainannya. Sebelum dia puas mainannya gak boleh diberesin. Jadilah suasana rumah kayak kapal pecah, orang tua dan kerabat kami berkomentar gak apa-apa anak laki agak lambat bicara, kalau aktif mereka bilang anak yang berani, tidak takut sama orang, bahkan semua tamu jadi objek manjatnya, pokoknya naik meja, kursi, loncat loncat itu aktivitasnya, selalu bergerak, tidak konsentrasi. Hanya waktu tidur baru diam.

Kami baru sadar kontak matanya kurang saat berumur 3 tahun, mulai curiga dan saat imunisasi, kami tanya dokter anak, kenapa sudah 3 tahun belum bisa ngomong, cuek dan gak mau kontak mata? Kamipun dirujuk ke klinik tumbuh kembang anak di RSCM, ketemu dr HDP. Setelah diperiksa macam-macam, maka pertemuan berikutnya diketahui ternyata ASD, ADHD dan disarankan untuk terapi wicara dan SI. Waktu itu istilah autis baru muncul, jadi tempat terapipun jarang dan kalaupun ada jauh dari tempat kami tinggal. Kami masih keluarga relatif muda, punya 2 orang anak waktu itu anak pertama Yanni baru umur 5 th dan Yansen 3 th, suami istri sama-sama bekerja, anak kami dirumah hanya bersama pengasuh dan pembantunya. Yanni sudah TK, Yansen yang seharusnya sudah masuk playgroup, karena belum bisa bicara dan sangat aktif, jadi gak mungkin sekolah. Mulai kami menangani masalah Yansen yang sudah bertitle ASD.

Berhubung kondisi kami masih dalam lingkup yang terbatas, maka kami tidak treatment masalah Yansen ke pusat terapi, yang bisa kami lakukan hanya berlutut, mohon Tuhan bukakan jalan dan berusaha cari informasi bagaimana penanganan anak Autis. Akhirnya kami meluangkan
waktu ikut seminar Tata Laksana penanganan AUTISME di Wisma Metropolitan yang diadakan YAI, waktu itu pembicaranya :dr MB, dr HDP, dr RS, dra DP.

Dengan pengetahuan yang masih dangkal itulah kami mulai menghandle Yansen sesuai makalah dua hari seminar sebagai patokannya dan ternyata ada hasilnya. Pada waktu Yansen berumur 3 th 6 bl mulai verbal. Karena waktu kami di rumah terbatas, maka pengasuh Yansen yang menjadi perpanjangan tangan kami dengan memberikan kiat-kiat tatalaksana penanganan anak autis. Kami bersyukur karena Tuhan itu baik, mengirimkan seorang pengasuh yang baik, menyayangi Yansen, telaten, bahkan dia lebih peduli keadaan Yansen melebihi wewenangnya, mau repot mengurus keperluan anak kami, menyiapkan makanan cfgf, ajak main, ajak ngomong, walaupun cape karena harus menangani Yansen yang sangat aktif tetapi tetap semangat, tidak loyo. Dalam waktu sebulan ternyata Yansen mulai verbal, mulai mengucapkan papa, mama, dan makin lama makin banyak perbendaharaannya. Wah kami senang sekali saat pertama Yansen mengucapkan papa, tidak terlukiskan kebahagiaannya.

Selanjutnya kami mulai mengajarkan anggota tubuhnya, tangan, kaki, hidung, mata, kuping secara berulang-ulang sampai akhirnya Yansen tahu seluruh anggota tubuhnya. Setelah itu, kami mengenalkan dengan benda benda di rumah, pokoknya semua yang kelihatan dan berwujud. Ternyata Yansen cepat menangkap dan makin lama makin banyak yang dia tahu dan bisa ucapkan kalau ditanya. Pengalaman kami sistim PECS sangat efektif sebab kebanyakan anak autis sangat tajam visualnya dan memorinya kuat.

Selama 2,5 tahun Yansen kami handle sendiri dirumah, 3 bulan menjelang masuk SD barulah kami konsultasikan ke Dr Dwijo dan ikut terapi selam 3 bln di smart centre miliknya, Yansen mengalami kemajuan terutama dibidang akademik. Setelah dievaluasi dan direkomondasi psikolognya, Yansen masuk SD reguler. Selama 6 th SD reguler, Yansen kembali kami treatment sendiri, hanya di rumah saja. Menjelang tamat, atas rekomendasi psikolog yang mengevaluasi secara masal siswa kelas 6, Yansen terus ke SMP reguler.

Saat naik kelas 2 SMP, Yansen kembali masuk pusat terapi untuk behavior dan komunikasi, karena walau akademik bagus tapi tingkat laku, konsentrasi dan komunikasi 2 arah masih kurang kondusif. Menjelang tamat SMP setelah terapi SI dan behavior selama setahun lebih, dievaluasi oleh team rehab medik dan psikolognya, lalu direkomendasikan masuk SMK.


Kesimpulan

Dari perjalanan pendidikan Yansen yang berliku-liku, kami berkesimpulan:

1. Performance anak SN lebih dominan mengangkat value citra diri, oleh karena itu sekalipun inteligensi anak sangat ok, tapi kalau behavior tidak kondusif maka penilaian masyarakat pun tidak terdongkrak naik. Jadi harus seimbang, performance membaik, harus dibarengi peningkatan inteligensinya, karena orang lebih mudah menilai penampilan yang kelihatan, dan kesalahan kami adalah lebih bangga kepintaran yang terlihat dari luar. Dari dulu kami menilai anak kami pintar jadi terlambat menata tingkah-lakunya.

2. Kalau anak SN masuk sekolah reguler, usahakan jangan banyak pindah. Semakin banyak pindah, penilaian makin jelek, karena dianggap banyak masalah. Usahakan membina hubungan baik dengan pihak sekolah dan berusaha mempertahankan anak sampai tamat di satu sekolah.

3. Kalau bisa rekrutlah mentor sesama anak sekolah (untuk SMP sudah bisa) yang sudah remaja dan punya kemampuan serta kepedulian. Kita bisa menjadi orang tua asuh bagi anak yang berpotensi walaupun ada tambahan biaya. Mentor anak SN kita bisa berfungsi sebagai teman, kalau bisa yang satu sekolah, sama-sama dalam sekelas sekaligus menjadi pemantau anak kita. Dengan begitu, kita juga telah menolong mereka yang kurang mampu. Kalau sanggup, bisa ambil dua atau tiga anak, tapi minimal satu. Menurut saya akan sangat menolong. Kalau masih SD mungkin akan lebih baik pakai shadow teacher).


Bagian Penutup

Sampai disini dulu sharing kami tentang mendampingi perjalanan Yansen sampai tamat SMP. Kami harap akan membawa manfaat bagi kita semua terutama keluarga besar milis Puterakembara dan para orang tua anak SN lain yang sedang bergumul dan berjuang membantu anak dalam menempuh pendidikan, baik formal maupun non formal.

Tuhan memberkati perjuangan kita semua, maju terus jangan putus asa.

Salam Peduli Autisme,
Anton Hardjofo (papa Yansen)

Catatan Moderator:

  • Untuk melihat Kisah sebelumnya yaitu Jilid Pertama, judul: "Mengawal Anak Special Need Sampai Lulus SD", silahkan klik DISINI

  • Untuk melihat Album Khusus plus Foto2 terbaru Yansen, silahkan klikDISINI



  • Total visitors from 2000 to October 2011 : 2,038,400 - © Puterakembara 2011
    interaction with this site is in accordance with our site policy